http://www.facebook.com/pages/Istigfar-Adalah-Solusi/177903475629245
Sabtu, 25 Februari 2012
SEMUT DAN CAPUNG
3 NASEHAT
Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu
berkata kepadanya, "Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan.
Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat."
...
Si Burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika
masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan
diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon, dan yang
ketiga ia sudah mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu,
"Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya
seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal."
Orang itupun melepaskannya, dan burung itu segera melompat
ke dahan.
Di sampaikannya nasehat yang kedua,
"Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal,
apabila tak ada bukti."
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia
berkata,
"O manusia malang! diriku terdapat dua permata besar, kalau
saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!"
Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun
katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasehat yang ketiga
itu!"
Si Burung menjawab,
"Alangkah tololnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan
yang kedua pun belum kaurenungkan sama sekali! Sudah
kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan
jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini
kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak
masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup
besar untuk bisa menyimpan dua permata besar!
Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam
keterbatasan yang disediakan bagi manusia."
Catatan
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting
untuk "mengakalkan" pikiran siswa Sufi, menyiapkannya
menghadapi pengalaman yang tidak bisa dicapai dengan
cara-cara biasa.
Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan Sufi, kisah
ini kedapatan juga dalam klasik Rumi, Mathnawi. Kisah ini
ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Attar, salah seorang
guru Rumi. Kedua pujangga itu hidup pada abad ke tiga belas.
------------------------------ ------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
Kamis, 23 Februari 2012
Penemu Iftek Pertama Adalah Orang Islam
Tahun 354 H (965 M). Ia memulai pendidikannya di kota basrah sebelum di lantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya. Setelah beberapa lama mengabdi beliau mengambil keputusannya untuk merantau ke Baghdad untuk menimba berbagai macam ilmu (agama, falak, matematika, fisika kedokteran) setelah itu beliau juga pergi ke Andalusi yang dikenal sebagai pusat peradaban dan kiblat pengetahuan Eropa waktu itu, di sinilah di mempelajari Ilmu tentang optic yang terkenal.
Beliau juga penah melakukan perjalanan ke mesir untuk menyelesaikan masalah banjir sungai Nil, di sini beliau banyka menyalin kitab – kitab matematika, falak, pengobatan dan falsafah, tidak heran beliau begitu ahli dalam berbagai ilmu tersebut
Pemikiran- pemikiran Ibnu Haitham
Beberapa karya tulis beliau menjadi rujukan sains di duinia barat, salah satu kajian Ibnu Haitham mengenai pengobatan mata menjadi pondasi pengobatan mata modern.
Beberapa karyanya mengenai cahaya juga di terjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul “light on Twilight Phenomenon”, kajian ini banyak membahas senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang – bayang gerhana. Menurut Ibnu Haitham cahaya fajar muncul saat matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur dan warna merah pada senja akan hilang saat matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat, dalam kajian itu Ibnu Haitham menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembelokan cahaya.
Ibnu Haitham juga melakukan percobaan terhadap kaca yang di bakar dan dari situ muncul teori lensa pembesar yang di gunakan seorang ilmuwan Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia.
Yang paling menakjubkan adalah ibnu Haitham berhasil menemukan teori kubik, yaitu prinsip isi kubik udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricellea menemukannya 500 tahun kemudian.
Ibnu Haitham juga menemukan adanya gravitasi jauh sebelum Issac Newton. Selain itu teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung secara teratur, yang memberikan ilham kepada dunia barat tetntang bayangan gambar, teorinya ini merupakan cikal bakal penemuan “Film”’
Selain Sins Ibnu Haitham juga banyak menulis karya di bidang filsafat, logika, metafizik dan masalah keagamaan, bagi Ibnu Haitham masalah filsafat tidak boleh dipisahkan dari sains matematik dan ketuhanan, ketiga ilmu ini harus di kuasai dengan baik jika ingin menemukan kebenaran.
Karya Ibnu Haitham
Beberapa karya Ibnu Haitham Antara lain :
Kitab Al-Manazir (Book of Optic) 1021 M, 600 tahun sebelum kelahiran Kepler, kitab ini membahas tentang sebab terbalik penglihatan mata dengan mengetahui kejadian yang didasarkan pada penglihtan melalui garis sinar bagian atas yang di lakukan orang yang melihatnya, sedang bagian bawah terlihat setelah terjadi sesuatu yang terbalik sehungga benda yang besar Nampak dekat dan benda yang kecil Nampak jauh, Ibnu haitham juga menolak teori Ptolemy dan Euclid bahwa manusia melihat benda melalui pancaran cahaya dari matanya, karena mata manusia bisa melihat benda akibat adanya cahaya yang jatuh ke mata.
Kitab Al-Jami fi usul Al Hisab, membahas ilmu matematika.
Kitab Al-Tahlil wa Al-Takrib, membahas Ilmu Geometri.
Kitab Tahlil al_masa’il Al Adadiyah, tentang Al Jabar.
Maqalah fi istikraj simat Al Qiblah, Mengupas tentang arah kiblat.
Maqalah fima tad’ullah, membahas penggunaan geometri dalam hukum syarak.
Maqalah fi Sina’at Al Syi’ir, membahas tentang telknik penulisan puisi.
Pengakuan Atas karya Ibnu Haitham
Rl Verma dalam bukuna “Al Hazen :Bapak modern optic” menjulukinya sebagai bapak optic modern, Rosana Gorini dalam tuisannya “Al Haytham the man of experience”, menyebutnya sebagai pelopor metode ilmiah modern. Al Qanuji mengatakan bahwa banyak ilmuwan dari yunani yang menulis tenteng optic tapi masih kalah dengan Ibnu Haitham.
Kajian dari Ibnu Haitham telah banyak memberikan landasan bagi dunia sains modern dan perkembangan sains dan beberpa pandangan dan oendapatnya masih relevan hingga sekarang.
Rabu, 22 Februari 2012
Sebelum Columbus
Penjelajah
Muslim Lebih Dulu Injak Amerika Daripada Colombus
Christopher Columbus menyebut
Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di
benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika
bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu
menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun
peradaban di Amerika. Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai
penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta
bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di
benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.
Secara historis umat Islam telah
memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua
Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara
historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika
beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan
dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat
Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika,
jauh sebelum Columbus tiba.
Jika Anda mengunjungi Washington DC,
datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip
perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku
Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee
saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.
Isi perjanjian itu antara lain
adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan,
perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan
hukum Islam.
Lebih lanjut, akan ditemukan
kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum
laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.
Cara berpakaian ini dapat ditemukan
dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun
1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari
daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.
Berbicara tentang suku Cherokee,
tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang
berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821.
Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z,
maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.
Yang membuatnya sangat luar biasa
adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan
aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang
ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad”
dalam bahasa Arab.
Nama-nama suku Indian dan kepala
sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee
(Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah,
Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.
Bahkan, beberapa kepala suku Indian
juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku
Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee,
Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan
1870.
Secara umum, suku-suku Indian di
Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak
teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang
diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.
Seperti penuturan seorang Kepala
Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the
duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah
Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata
untuk beribadah pada Allah
Bagaimana bisa Kepala suku Indian
Cheeroke itu muslim?
Sejarahnya panjang, Semangat
orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya
saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan
pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam
mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih
dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.
Beberapa nama tetap begitu kesohor
sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng
Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan
hanya tercatat pada buku-buku akademis.
Para ahli geografi dan intelektual
dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah
Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi
(meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300
– 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).
Menurut catatan ahli sejarah dan
ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad
seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua
Amerika pada tahun 889 Masehi.
Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa
Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi
melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad
(888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada
tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum
dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa
berbagai harta yang menakjubkan.
Sesudah itu banyak pelayaran yang
dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan
berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat
bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.
Dr. Youssef Mroueh juga menulis
bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari
dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar
juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas
yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan
membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.
Beliau juga menuliskan menurut
catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan
Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama
Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun
999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).
Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja
Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan
menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan
Mei 999.
Perlayaran melintasi Lautan Atlantik
dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel
Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan
Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.
Kapalnya mendarat di pulau Green di
Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak
dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.
Sultan-sultan dari kerajaan Mali di
Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan
sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin
Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.
Timbuktu yang kini dilupakan orang,
dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di
Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju
Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.
Sultan yang tercatat melanglang
buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312),
saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua
kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri
sungai Mississippi.
Sultan Abu Bakari I melakukan
eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi
antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.
Dua abad kemudian, penemuan benua
Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan
dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini
menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua
Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka
peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai
umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata
begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan
berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los
Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari
pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah
Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang
dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti;
Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor,
Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke
bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat
nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla,
Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota
Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan
tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia
(berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama
wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan
berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid
Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat
sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau
Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat
nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil
dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai
barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara
bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas
berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu,
ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam,
seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen
di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas.
Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.
Fakta Eksistensi Islam di Amerika
Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu
Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm
Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama
Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju
Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh
mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau
yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina
yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah
bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari
Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M:
Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi
Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba
di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke
Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan
Massiona – kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu
beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor,
seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua
negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko
ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland,
dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor
dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Sequoyah, also known as George Gist
Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib
(Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam
telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.
Mereka mendiami Karibia, Amerika
Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan
memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan
beberapa menikahi orang-orang pribumi.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam
karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim
Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in
Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari
Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat
menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya
kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa
Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika
Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya
berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun
mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba.
Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan
bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah
bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh
sebelum Barat tiba.
Lebih lanjut Columbus mengakui pada
21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah
masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain).
Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico,
Texas dan Nevada.
Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda
kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah
orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex
Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362)
Muallaf
kisahmuallaf.com – Sekitar 13 tahun lalu, Steven Eric Krauss hanyalah
seorang pemuda tanggung kebanyakan. Pada 1998, anak muda yang sedang
menjalani masa-masa kuliah itu dilanda kegamangan. Dalam hatinya tumbuh
sebuah keraguan akan kebenaran agama yang tengah dipeluknya sejak lahir,
Kristen Protestan.
Kedua orangtua Krauss adalah pemeluk Kristen Protestan. Meski
terlahir dari keluarga Protestan, namun Krauss mengaku jarang beribadah
seperti yang dilakukan pemeluk agama itu. Ia menjauh dari kegiatan
ibadah, karena baginya agama sebagai sebuah institusi, tidak memberikan
apapun dalam kehidupannya.
‘’Sulit untuk mencari apapun dari agama itu yang bisa saya gunakan untuk kehidupan sehari-hari,” tulisnya dalam artikel berjudul My journey to Islam – How Malay martial arts led a theologically dissatisfied American Protestant to Islam. Sejak masa remaja, Krauss memang sudah merasa tidak puas dengan ajaran Kristen.
Ia mengatakan, agama kedua orangtuanya itu lemah dan kurang mampu memberi penjelasan tentang ketuhanan dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. “Menurut saya, filosofi Kristen itu sangat bergantung pada sebuah hubungan yang aneh dengan Jesus, yang merupakan Tuhan, tapi juga manusia,” ujarnya.
Krauss mengaku sulit menerima cara pandang seorang Kristen yang tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan, tapi justru atas nama Jesus. ‘’Kenapa Tuhan harus mengambil bentuk sebagai manusia,’’ ujarnya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian mendorongnya untuk mencari jawaban yang lebih baik tentang Tuhan. Dia lebih mencari nilai spiritual dari sebuah agama.
Sampailah kemudian ketika masih duduk di bangku universitas, dia berbagi kamar dengan seorang Yahudi yang sedang mempelajari pencak silat. Pencak silat yang dipelajari oleh temannya itu adalah jenis bela diri yang ada di Malaysia. Ketika itu pencak silat tersebut sangat dekat dengan ajaran Islam.
Setiap kali, pemuda Yahudi itu pulang, dia selalu menceritakan kepada Krauss tentang keunikan silat dan kekayaan dimensi spiritual yang ada. Dari cerita-cerita itu, akhirnya Steven merasa tertarik. Suatu Sabtu pagi, dia memilih untuk ikut dengan teman satu kamarnya itu dalam sebuah sesi latihan pencak silat.
Meskipun pada awalnya dia belum menyadari bahwa hatinya telah tergetar dengan Islam, Krauss mengakui latihan silat pertamanya pada 28 Februari 1998 itulah yang mengantarkannya untuk menjadi mualaf. Ketika itu dia bertemu dengan Cikgu (guru dalam bahasa Malaysia) Sulaiman.
Sang guru silat itulah yang mengenalkannya kepada Islam. Padahal sebelumnya, agama tersebut tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Krauss. Merasa semakin tertarik dengan silat, ia pun meluangkan lebih banyak waktu untuk berlatih dan bertemu dengan gurunya.
Ia dan teman sekamarnya itu juga datang ke rumah guru Sulaiman untuk belajar lebih jauh. Pernah, pada musim panas di tahun 1998, mereka menghabiskan waktu bersama keluarga Sulaiman. Setiap hari, ia bersentuhan dengan sebuah keluarga Muslim. Ia melihat cara mereka beribadah, dan gaya hidup seorang Muslim sebenarnya.
Hasilnya, pengetahuannya tentang silat dan Islam pun semakin banyak. Islam menurutnya sebuah agama yang menjadi bagian dari hidup pemeluknya, hal ini berbeda dengan Kristen yang memisahkan kehidupan sehari-hari dengan agama.
Awalnya, dia merasa asing dengan agama Islam. Apalagi ketika itu dia masih menganut paham liberal dan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat dogmatis. Namun, lama-kelamaan, hal yang dianggap sebagai dogma dalam ajaran Islam itu ternyata merupakan sebuah kepasrahan kepada Allah. Sebuah cara hidup yang dijalankan oleh para pemeluknya.
Butuh waktu satu setengah tahun, atau tepatnya pada 30 Juli 1999, Steven bersyahadat. Dia kemudian mengambil nama Islam, Abdul-Lateef Abdullah. Dia sadar bahwa budaya Amerika kemudian datang menjadi tantangan. Kebudayaan negara Adi Daya itu sangat mengakomodasi nafsu-nafus duniawiah.
Di Amerika, kebahagiaan itu tidak jauh dari konsumsi dan apa yang sudah dipunyai secara materi. Sistem pasar adalah tolak ukur masyarakat Amerika. Akan tetapi Islam justru memfokuskan pada cara hidup yang sehat dan positif. Islam sebenarnya bisa menjadi jawaban bagi permasalahan sosial. Hal inilah yang membedakan Islam dengan agama yang lain.
‘’Islam juga memberikan pengetahuan, penjelasan, dan tuntunan dari setiap aspek kehidupan (fisik, spiritual, mental, finansial, dan sebagainya). Hanya Islam yang memberikan tujuan hidup yang jelas,’’ papar Abdul-Lateef Abdullah.
Sejak menjadi seorang Muslim, ia akhirnya sadar bahwa Islam benar-benar bisa menjadi pegangan dalam kehidupan. Apapun yang dikerjakan pemeluknya adalah merupakan cara untuk selalu mengingat Allah. Cara hidup Islam memungkinkan pemeluknya untuk tetap melakukan itu setiap saat, mulai dari bangun tidur hingga kembali lagi ke peraduan.
Dengan mengingat Allah, maka umat Muslim mampu menghindarkan diri dari segala macam tindakan dan perilaku yang kurang sehat dan cenderung tidak berguna. Mereka sangat fokus pada energi yang diberikan oleh Allah. ‘’Dengan mengingat Allah kita menjadi semakin kuat dan sehat di setiap aspek kehidupan kita dan kita akan terhindar dari pikiran dan perilaku yang tidak baik,’’ ucap Abdul Lateef.
Sama halnya dengan pengalaman mualaf yang lain, ia mengaku harus menyesuaikan hidupnya dengan cara hidup Islam. Ia bersyukur, diberi kemudahan untuk mengatasi itu semua itu. Sehingga, Abdul Lateef tetap bisa hidup di antara masyarakat Amerika yang lain, namun tetap memegang teguh ajaran Islam.
Begitu pula dengan keluarganya. Ketika pertama kali diberitahu tentang keputusannya masuk Islam, keluarga dan teman-teman dekatnya mulai menanyakan banyak hal dan sangat khawatir dengan kehidupannya. Akan tetapi, mereka justru tidak memandang keputusan itu sebagai sesuatu yang negatif. Dengan penjelasan yang panjang dan mendalam, akhirnya mereka bisa mengerti.
Ia benar-benar terpikat dengan kebenaran dan kesempurnaan agama Islam.
Hikmah dari Sang Guru
Steven Eric Krauss terbilang beruntung. Untuk menghadapi keluarga dan pertanyaan banyak orang tentang Islam, ia tak pernah merasa bingung. Krauss memiliki seorang guru agama yang setiap saat selalu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang di sekelilingnya tentang seluk-beluk Islam.
Selain merasa siap dengan setiap jawaban, Krauss menjadi semakin mantap dengan tata cara ibadah wajib yang harus dia lakukan setiap hari. Baginya, guru adalah sosok yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas. Seseorang mualaf yang baru belajar tentang Islam, kehadiaran guru itu sangat penting.
Di Amerika, kebanyakan para mualaf lebih senang belajar tentang Islam secara mandiri dengan menonton video atau membaca buku. Mereka merasa bisa serta-merta mengaplikasikan Islam dengan struktur kebudayaan barat. Sebenarnya, jika tanpa pendampingan yang benar, maka dikhawatirkan akan terjerumus pada pemahaman yang kurang tepat.
Atau justru terjebak dengan pemahaman yang berpaku pada ego pribadi, sehingga berujung pada kebingungan. Islam, bagi Krauss, bukan sebuah agama yang bisa diinterpretasi sendirian. Apalagi bagi seseorang yang baru saja memeluk Islam. Perlu tuntunan dari seorang guru yang memang benar-benar mengerti tentang Islam.
Sejak berabad-abad yang lalu, Islam sudah selayaknya diajarkan melalui seorang ulama atau guru yang memang memiliki pengetahuan yang luas. Lewat cara inilah ajaran Islam bisa disampaikan secara benar. Menurutnya, umat Islam tidak bisa mengerjakan ibadah tanpa ilmu dan sebaliknya.
‘’Guru juga bisa menjadi contoh kepada para mualaf bagaimana sebanarnya akhlak yang baik itu, melalui cara hidup mereka,’’ paparnya. Menurutnya, sangat baik bagi seseorang yang baru berkenalan dengan Islam untuk melihat bagaimana guru mereka mengimplementasikan Islam dalam kehidupan.
Mulai dari cara shalat dan cara beribadah yang lain. Termasuk perilakunya. Namun, menurut Krauss, saat ini juga banyak orang yang mengaku sebagai imam atau syekh, akan tetapi mereka hanya memiliki pengetahuan yang sedikit tentang Islam.
‘’Jadi jangan mudah terjebak dengan embel-embel imam atau syikh dalam pencarian seorang guru,’’ paparnya mengingatkan.
Menurut dia, mencari guru yang tepat adalah suatu hal yang sangat penting. Implementasi dan pemahaman seorang mualaf, kata dia, tergantung gurunya. Islam adalah cara hidup yang harus dilakukan setiap saat dalam kehidupan.
‘’Sulit untuk mencari apapun dari agama itu yang bisa saya gunakan untuk kehidupan sehari-hari,” tulisnya dalam artikel berjudul My journey to Islam – How Malay martial arts led a theologically dissatisfied American Protestant to Islam. Sejak masa remaja, Krauss memang sudah merasa tidak puas dengan ajaran Kristen.
Ia mengatakan, agama kedua orangtuanya itu lemah dan kurang mampu memberi penjelasan tentang ketuhanan dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. “Menurut saya, filosofi Kristen itu sangat bergantung pada sebuah hubungan yang aneh dengan Jesus, yang merupakan Tuhan, tapi juga manusia,” ujarnya.
Krauss mengaku sulit menerima cara pandang seorang Kristen yang tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan, tapi justru atas nama Jesus. ‘’Kenapa Tuhan harus mengambil bentuk sebagai manusia,’’ ujarnya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian mendorongnya untuk mencari jawaban yang lebih baik tentang Tuhan. Dia lebih mencari nilai spiritual dari sebuah agama.
Sampailah kemudian ketika masih duduk di bangku universitas, dia berbagi kamar dengan seorang Yahudi yang sedang mempelajari pencak silat. Pencak silat yang dipelajari oleh temannya itu adalah jenis bela diri yang ada di Malaysia. Ketika itu pencak silat tersebut sangat dekat dengan ajaran Islam.
Setiap kali, pemuda Yahudi itu pulang, dia selalu menceritakan kepada Krauss tentang keunikan silat dan kekayaan dimensi spiritual yang ada. Dari cerita-cerita itu, akhirnya Steven merasa tertarik. Suatu Sabtu pagi, dia memilih untuk ikut dengan teman satu kamarnya itu dalam sebuah sesi latihan pencak silat.
Meskipun pada awalnya dia belum menyadari bahwa hatinya telah tergetar dengan Islam, Krauss mengakui latihan silat pertamanya pada 28 Februari 1998 itulah yang mengantarkannya untuk menjadi mualaf. Ketika itu dia bertemu dengan Cikgu (guru dalam bahasa Malaysia) Sulaiman.
Sang guru silat itulah yang mengenalkannya kepada Islam. Padahal sebelumnya, agama tersebut tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Krauss. Merasa semakin tertarik dengan silat, ia pun meluangkan lebih banyak waktu untuk berlatih dan bertemu dengan gurunya.
Ia dan teman sekamarnya itu juga datang ke rumah guru Sulaiman untuk belajar lebih jauh. Pernah, pada musim panas di tahun 1998, mereka menghabiskan waktu bersama keluarga Sulaiman. Setiap hari, ia bersentuhan dengan sebuah keluarga Muslim. Ia melihat cara mereka beribadah, dan gaya hidup seorang Muslim sebenarnya.
Hasilnya, pengetahuannya tentang silat dan Islam pun semakin banyak. Islam menurutnya sebuah agama yang menjadi bagian dari hidup pemeluknya, hal ini berbeda dengan Kristen yang memisahkan kehidupan sehari-hari dengan agama.
Awalnya, dia merasa asing dengan agama Islam. Apalagi ketika itu dia masih menganut paham liberal dan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat dogmatis. Namun, lama-kelamaan, hal yang dianggap sebagai dogma dalam ajaran Islam itu ternyata merupakan sebuah kepasrahan kepada Allah. Sebuah cara hidup yang dijalankan oleh para pemeluknya.
Butuh waktu satu setengah tahun, atau tepatnya pada 30 Juli 1999, Steven bersyahadat. Dia kemudian mengambil nama Islam, Abdul-Lateef Abdullah. Dia sadar bahwa budaya Amerika kemudian datang menjadi tantangan. Kebudayaan negara Adi Daya itu sangat mengakomodasi nafsu-nafus duniawiah.
Di Amerika, kebahagiaan itu tidak jauh dari konsumsi dan apa yang sudah dipunyai secara materi. Sistem pasar adalah tolak ukur masyarakat Amerika. Akan tetapi Islam justru memfokuskan pada cara hidup yang sehat dan positif. Islam sebenarnya bisa menjadi jawaban bagi permasalahan sosial. Hal inilah yang membedakan Islam dengan agama yang lain.
‘’Islam juga memberikan pengetahuan, penjelasan, dan tuntunan dari setiap aspek kehidupan (fisik, spiritual, mental, finansial, dan sebagainya). Hanya Islam yang memberikan tujuan hidup yang jelas,’’ papar Abdul-Lateef Abdullah.
Sejak menjadi seorang Muslim, ia akhirnya sadar bahwa Islam benar-benar bisa menjadi pegangan dalam kehidupan. Apapun yang dikerjakan pemeluknya adalah merupakan cara untuk selalu mengingat Allah. Cara hidup Islam memungkinkan pemeluknya untuk tetap melakukan itu setiap saat, mulai dari bangun tidur hingga kembali lagi ke peraduan.
Dengan mengingat Allah, maka umat Muslim mampu menghindarkan diri dari segala macam tindakan dan perilaku yang kurang sehat dan cenderung tidak berguna. Mereka sangat fokus pada energi yang diberikan oleh Allah. ‘’Dengan mengingat Allah kita menjadi semakin kuat dan sehat di setiap aspek kehidupan kita dan kita akan terhindar dari pikiran dan perilaku yang tidak baik,’’ ucap Abdul Lateef.
Sama halnya dengan pengalaman mualaf yang lain, ia mengaku harus menyesuaikan hidupnya dengan cara hidup Islam. Ia bersyukur, diberi kemudahan untuk mengatasi itu semua itu. Sehingga, Abdul Lateef tetap bisa hidup di antara masyarakat Amerika yang lain, namun tetap memegang teguh ajaran Islam.
Begitu pula dengan keluarganya. Ketika pertama kali diberitahu tentang keputusannya masuk Islam, keluarga dan teman-teman dekatnya mulai menanyakan banyak hal dan sangat khawatir dengan kehidupannya. Akan tetapi, mereka justru tidak memandang keputusan itu sebagai sesuatu yang negatif. Dengan penjelasan yang panjang dan mendalam, akhirnya mereka bisa mengerti.
Ia benar-benar terpikat dengan kebenaran dan kesempurnaan agama Islam.
Hikmah dari Sang Guru
Steven Eric Krauss terbilang beruntung. Untuk menghadapi keluarga dan pertanyaan banyak orang tentang Islam, ia tak pernah merasa bingung. Krauss memiliki seorang guru agama yang setiap saat selalu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang di sekelilingnya tentang seluk-beluk Islam.
Selain merasa siap dengan setiap jawaban, Krauss menjadi semakin mantap dengan tata cara ibadah wajib yang harus dia lakukan setiap hari. Baginya, guru adalah sosok yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas. Seseorang mualaf yang baru belajar tentang Islam, kehadiaran guru itu sangat penting.
Di Amerika, kebanyakan para mualaf lebih senang belajar tentang Islam secara mandiri dengan menonton video atau membaca buku. Mereka merasa bisa serta-merta mengaplikasikan Islam dengan struktur kebudayaan barat. Sebenarnya, jika tanpa pendampingan yang benar, maka dikhawatirkan akan terjerumus pada pemahaman yang kurang tepat.
Atau justru terjebak dengan pemahaman yang berpaku pada ego pribadi, sehingga berujung pada kebingungan. Islam, bagi Krauss, bukan sebuah agama yang bisa diinterpretasi sendirian. Apalagi bagi seseorang yang baru saja memeluk Islam. Perlu tuntunan dari seorang guru yang memang benar-benar mengerti tentang Islam.
Sejak berabad-abad yang lalu, Islam sudah selayaknya diajarkan melalui seorang ulama atau guru yang memang memiliki pengetahuan yang luas. Lewat cara inilah ajaran Islam bisa disampaikan secara benar. Menurutnya, umat Islam tidak bisa mengerjakan ibadah tanpa ilmu dan sebaliknya.
‘’Guru juga bisa menjadi contoh kepada para mualaf bagaimana sebanarnya akhlak yang baik itu, melalui cara hidup mereka,’’ paparnya. Menurutnya, sangat baik bagi seseorang yang baru berkenalan dengan Islam untuk melihat bagaimana guru mereka mengimplementasikan Islam dalam kehidupan.
Mulai dari cara shalat dan cara beribadah yang lain. Termasuk perilakunya. Namun, menurut Krauss, saat ini juga banyak orang yang mengaku sebagai imam atau syekh, akan tetapi mereka hanya memiliki pengetahuan yang sedikit tentang Islam.
‘’Jadi jangan mudah terjebak dengan embel-embel imam atau syikh dalam pencarian seorang guru,’’ paparnya mengingatkan.
Menurut dia, mencari guru yang tepat adalah suatu hal yang sangat penting. Implementasi dan pemahaman seorang mualaf, kata dia, tergantung gurunya. Islam adalah cara hidup yang harus dilakukan setiap saat dalam kehidupan.
Minggu, 19 Februari 2012
Bukti Bulan Pernah Terbelah Menjadi Dua
Sejak cukup lama, telah beredar melalui internet sebuah
gambar permukaan bulan yang diklaim sebagai bukti pernah terbelahnya bulan.
Gambar aslinya dapat dilihat pada situs Badan Antariksa Amerika (NASA).-
Di sana terlihat sebuah ngarai (semacam kanal kering) besar yang lurus membentang, dan mengesankan sebuah bekas patahan atau belahan yang tersambung kembali. Tetapi, jika kita bersedia membaca lebih jauh keterangan dari NASA mengenai gambar tersebut, orang akan berpikir ulang untuk menyatakan bahwa ngarai tersebut merupakan bekas terbelahnya bulan.
Beberapa pendapat tentang bentukan alam di bulan tersebut:
1. Ilmuwan menyebutnya sebagai RILLE atau RIMA. Meskipun ada banyak spekulasi tentang asal muasal kejadiannya, tetapi pendapat terkuat menyatakan bahwa ia merupakan bekas kanal atau saluran lava yang keluar dari perut bulan di masa lampau. Khusus yang berbentuk lurus seperti Rille Ariadaeus ini, diduga merupakan patahan tanah yang turun di antara 2 sesar kerak bulan yang sejajar.
Di sana terlihat sebuah ngarai (semacam kanal kering) besar yang lurus membentang, dan mengesankan sebuah bekas patahan atau belahan yang tersambung kembali. Tetapi, jika kita bersedia membaca lebih jauh keterangan dari NASA mengenai gambar tersebut, orang akan berpikir ulang untuk menyatakan bahwa ngarai tersebut merupakan bekas terbelahnya bulan.
Beberapa pendapat tentang bentukan alam di bulan tersebut:
1. Ilmuwan menyebutnya sebagai RILLE atau RIMA. Meskipun ada banyak spekulasi tentang asal muasal kejadiannya, tetapi pendapat terkuat menyatakan bahwa ia merupakan bekas kanal atau saluran lava yang keluar dari perut bulan di masa lampau. Khusus yang berbentuk lurus seperti Rille Ariadaeus ini, diduga merupakan patahan tanah yang turun di antara 2 sesar kerak bulan yang sejajar.
2. Rille mempunyai berbagai macam bentuk. Lurus dan panjang
seperti gambar di atas adalah salah satunya. Sisanya ada yang seperti aliran
sungai sebagaimana di bumi. Mereka ditemukan di hampir semua titik di permukaan
bulan. Lihat : http://www.lpi.usra.edu/resources/lunar_orbiter/bin/info.shtml?247
3. Rille tidaklah sepanjang yang diperkirakan. Meskipun ada yang mencapai ratusan kilometer ,tetapi tidak ditemukan Rille yang mengelilingi seluruh permukaan bulan. Jika bulan pernah terbelah dua dan Rille tersebut adalah bukti bekas belahannya, tentunya kita bisa harapkan bahwa Rille tersebut membentuk garis yang mengelilingi bulan.
Rille pada gambar di atas seolah membelah bulan karena sudut pengambilan gambarnya. Panjangnya hanya sekitar 300 km atau 1/36 dari 10.921 km keliling permukaan bulan.
4. Utk sinuous rilles memang (mungkin) bekas aliran lava,tapi utk linear rilles atau arkuata,sampai skrng masih blm diketahui bagaimana terbentuknya. Banyak teori terjadinya rilles arkuata & linear (berbentuk garis),tapi tdk mngkn (sampai kapanpun) ilmuwan mengemukakan teori bahwa bulan awalnya terbelah,lalu menyatu lagi, kecuali orang itu sudah gila (mereka lebih mudah untuk menjawab bahwa terbentuknya rilles trsbt tdk diketahui drpd mengatakan awalnya bulan terbelah lalu disatukan lagi, walaupun secara sederhana (mungkin untuk kasus apapun, bukan cuma bulan) sesuatu yang berbentuk retakan bisa diakibatkan oleh penyatuan 2 bagian benda atau lebih,tapi tdk melebur sempurna). Jadi mungkin terjadinya rilles tersebut akan sulit dijawab, kecuali dalam beberapa teori.
“Penelitian mereka diatas,
menunjukkan bukti pengetahuan bahwa bulan membentuk suatu garis panjang seperti
sungai yang meliuk”
Dalam Bukhari dan Muslim, juga dalam
kitab2 hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah
(saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy, seperti Abu Jahal, Walid bin
Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail.
Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”
Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?”
Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.”
Demikian jauh jarak belahan bulan
itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2
kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir
menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama. Akan tetapi para ahli
mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada
disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat
itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan.
Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah
menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir ingkar).
Atas peristiwa ini Allah SWT menurunkan ayat Al Qur’an: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (QS Al-Qamar 54] : 1-5)
Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah
menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir ingkar).
Atas peristiwa ini Allah SWT menurunkan ayat Al Qur’an: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (QS Al-Qamar 54] : 1-5)
Langganan:
Postingan (Atom)