dari kubur keluar ular besar
tulisan ini dimuat di majalah hidayah, edisi 76 november 2007
Di
kampung Mangga, ia dikenal orang kaya. Maklum, di tempatnya tinggal
itu, lelaki paruh baya yang bernama Majnun (tentu bukan nama sebenarnya,
50 tahun) ini adalah petani sukses. Sawah dan ladang Majnun luas
membentang. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai pedagang buah terkenal
dan berhasil. Tak ayal, jika warga menyebut-nyebut lelaki yang memiliki
lima anak itu tak kekurangan materi lantaran bergelimang dengan harta.
Tapi,
kekayaan yang dimiliki Majnun itu tidak membuat dia menjadi orang yang
ingat kebesaran Allah dengan rezeki yang telah diberikan padanya
sehingga dia jadi dermawan atau ringan tangan terhadap orang miskin,
paling tidak orang yang lagi dilanda kesusahan. Justru, dia selalu
menggenggam jemari tangannya dengan erat dan bahkan congkak terhadap
orang miskin.
Mungkin, tidak jadi soal jika Majnun tidak mau
membantu orang yang butuh namun masih dengan cara baik dan rendah hati.
Tapi, sudah tak mau mengulurkan tangan, Majnun masih berbohong, dan
merasa tidak sebagai saudara.
Orang Kikir
Suatu hari, pernah
ada sepupu Majnun dari jauh yang datang ke rumahnya untuk meminjam
uang. Saudara Majnun itu lagi ditimpa musibah, lantaran anaknya sakit
sehingga butuh biaya tak sedikit untuk berobat. Sepupu Majnun sebenarnya
sadar, kalau tipis harapan jika harus meminjam uang kepada Majnun.
Tetapi, jalan untuk mendapatkan uang sudah tidak ada lagi. Dia sudah
bersusah payah minjam uang ke beberapa tetangga di kampung tempat
tinggalnya, tetapi sayang tidak ada satu orang pun yang bisa membantu.
Maka, tak punya pilihan lain, kecuali datang ke rumah Majnun. Dalam
hati, ia membatin siapa tahu dengan keadaan anak sakit, Majnun tersentuh
hati dan luluh sehingga tidak keberatan meminjamkan uang.
Sayang, harapan sepupu Majnun ternyata bertepuk sebelah tangan. Setelah
menempuh perjalanan yang lumayan jauh, dan tiba di rumah Majnun bukan
sapaan akrab dan uluran tangan keluarga yang ia dapat melainkan luapan
wajah cemberut di wajah Majnun yang serupa singa. Tentu saudara Majnun
tidak mungkin pulang jika tanpa usaha. Dia sudah jauh terlanjur sampai
di rumah Majnun, maka akhirnya memberanikan membuka mulut...
"Kedatangan saya ke sini sebenarnya selain silaturrahmi juga ada masalah
penting yang ingin saya bicarakan!”, ucap sepupu Majnun.
“Masalah apa lagi?” tanya Majnun.
“Saya ingin minta tolong!” ucap sepupu Majnun gagap. “Saya butuh uang untuk mengobati anak saya yang sakit…"
Saat mendengar meminjam uang, seketika itu Majnun mendidih. Jantungnya
berdegup kencang, mukanya merah serupa batu bata yang terbakar bara.
Majnun berkacak pinggang, "Kau ini tiba ke sini hanya minta tolong! Saya
tak punya uang. Hari ini dagangan buah tak laku, hasil panen pun belum
tiba. Lagi pula, saya ini memang apa-mu?” ketus Majnun.
Sepupu
Majnun itu, terdiam. Kedua kakinya lemas. Langit-langit seakan gelap.
Mulutnya terkunci dengan ucapan Majnun yang ketus itu. Belum lagi, wajah
cemberut Majnun yang dilihat seram menakutkan. Maka, tak ada pilihan
lain untuk tinggal lebih lama. Dia segera pamit pulang, dengan tanpa
membawa uang.
Dia sebenarnya tidak heran dengan kelakuan Majnun
itu, karena penolakan Majnun terhadapnya kali ini bukanlah pertama yang
dia alami. Sebelumnya pernah ia meminjam uang dan selalu dijawab dengan
kata “tidak punya uang”.
Tetapi kali ini saudara Majnun
terpaksa, tapi, apa daya orang yang selama ini dianggap sebagai saudara
ternyata tak lebih dari orang asing yang tak saling kenal.
Watak Majnun itu, sebenarnya sudah jadi rahasia umum warga Semangka.
Warga tahu, Majnun memang kaya. Tapi menurut warga, kekayaan yang
dimiliki Majnun itu justru membuat Majnun sombong, congkak dan enggan
bergaul dengan warga yang mayoritas berstatus rendah. Selain kikir,
Majnun dikenal warga suka mendatangi sebuah pohon besar yang ada di
ujung kampung. Tak jarang, Majnun kepergok oleh salah seorang warga yang
mencari rumput.
Anto (36 tahun), warga yang mencari rumput itu
pun sering melihat Majnun bersila di bawah pohon, melakukan ritual
dengan menyajikan sesajen, membakar dupa dan mulutnya berkomat-kamit
membaca mantera. Di akhir prosesi, Majnun kemudian bersujud di hadapan
pohon besar tersebut dengan seksama.
Kebiasaan buruk itu, sudah
sering dilakukan Majnun tatkala hari menjelang Maghrib --tepatnya
Jum'at sore. Maklum jika Anto tahu. Dia seorang warga desa yang
sehari-hari bekerja di sawah milik Majnun sebagai buruh harian. Tak
salah pula Anto sering memergoki Majnun melakukan ritual aneh itu. Anto
mengatakan aneh, sebab suatu hari pernah melihat Majnun bermesraan
dengan seekor ular besar di bawah pohon.
Memang, awalnya ritual
aneh itu hanya diketahui Anto. Tetapi, lama-lama warga tahu juga. Tapi
warga hanya diam tak pernah mengusik kebiasaan Majnun yang dianggap
menyimpang. Orang-orang kampung Semangka hanya berbisik-bisik tatkala di
warung kopi lantas menyebut-nyebut Majnun itu telah mengambil
pesugihan.
Sombong
Dengan memiliki kekayaan yang berlimpah
dan tidak ada orang di kampung Semangka yang mampu menandinginya, Majnun
pun jadi sombong termasuk kalau ada orang yang datang ke rumahnya.
Padahal kedatangan orang ke rumahnya itu belum tentu mau meminjam uang.
Bisa jadi, orang yang datang ke rumah Majnun itu ingin memberikan
informasi, atau apa lagi…
Tapi karena Majnun selalu
berprasangka negatif kepada setiap orang yang datang ke rumahnya,
akhirnya orang kampung tak berani datang ke rumah Majnun jika memang
tidak perlu. Rumah Majnun jadi angker, angkuh dan menyeramkan. Tidak
jarang, pengemis atau anak yatim yang datang ke rumah Majnun pun untuk
minta sedekah, akhirnya harus menantap rumah megah Majnun itu dengan
tatapan yang nyaris tidak percaya jika pemiliknya ternyata tak
bersahabat.
Selain dikenal angkuh dan sombong, Majnun juga
nyaris tak pernah hadir jika ada warga atau tetangga yang lagi punya
hajat. Maklum jika satu dua kali tak hadir, tetapi seringkali undangan
warga itu tidak pernah dipenuhi Majnun dengan seribu alasan, seperti
sibuk kerja atau sedang ke pergi ke luar kota.
Menurut
pengakuan Anto, Majnun memang orang yang tidak suka bergaul dengan warga
kampung. Sikap itu pula yang membuat warga membenci Majnun dengan
sepenuh hati. Karena tidak semestinya Majnun bersikap sombong, apalagi
tak mau bergaul dengan tetangga. Lebih dari itu, Majnun suka menghina
orang.
Pernah suatu ketika, ia menghina Anto karena Anto sedang
sakit dan minta istirahat beberapa hari untuk libur dari kerja di sawah
Majnun. Tapi, Majnun tak memberi izin kepada Anto apalagi memberi
bantuan uang untuk berobat. Justru, Anto dihina-hina. "Kau itu sudah
miskin, sakit-sakitan lagi! Kapan lagi kamu akan menyelesaikan kerjaan
di sawah!" bentak Majnun dengan muka bersemu merah menyala.
Jelas, hinaan itu langsung membuat Anto kecewa dengan majikannya yang
selama ini ia bantu. Dalam hati kecil, Anto ingin memutuskan tidak
melanjutkan bekerja di sawah Majnun. Tapi ia berfikir ulang, dari mana
dia akan mendapatkan uang kalau tidak bekerja sebagai buruh harian di
sawah Majnun? Apalagi istrinya sedang hamil dan nanti butuh biaya banyak
untuk bersalin. Belum lagi, kebutuhan lain yang harus ditanggung Anto.
Saat berpikir jernih, ia pun urung keluar kerja.
Sejak
peristiwa itu, Anto menebalkan telinga, dan bungkam seribu bahasa meski
Majnun menyumpahi dengan sumpah serapah yang tidak enak didengar. Tak
salah, jika orang-orang sebelum Anto pun nyaris tidak pernah bertahan
lama selama kerja di sawah Majnun.
Datang Sakit...
Jelas,
roda kehidupan datang silih berganti. Ada orang yang kaya, ada pula yang
miskin. Ada sehat, ada pula sakit. Ada siang, juga malam. Kadang di
atas, suatu kali pun bisa jadi berganti ada di bawah. Seperti halnya
Majnun, dia tak selamanya menjadi orang kaya yang bisa merendahkan
setiap orang yang ada di sekitarnya. Ia juga tak selamanya akan sehat.
Hingga suatu hati, Majnun mendapat ujian dari Allah. Ia sakit. Ia
mengalami stroke, tepatnya di kepala bagian kanan. Sakit yang
dideritanya itu tak bisa lagi membuatnya pergi untuk berjualan buah. Tak
pelak, ia pun hanya terbaring lemah di atas ranjang, menatap langit
rumah yang kelam. Ia tidak mampu berkata-kata kasar pada orang-orang
disekitarnya. Ia tak kuasa lagi berbicara dengan keras. Tak kuasa
bergerak leluasa, bahkan sekadar untuk memalingkan wajahnya ke kiri atau
kanan. Ia sudah tak mampu lagi berbuat banyak.
Satu bulan
berlalu, sakit yang diderita Majnun ternyata belum pulih. Maka keluarga
dan anak-anak Majnun ditikam bingung, pasalnya sudah sebulan itu pula
Majnun menginap di rumah sakit dan biaya rumah sakit sudah membengkak
tinggi, tetapi Majnun masih saja tak ada perkembangan. Tetapi apa daya,
Allah memang belum berkehendak untuk menyembuhkan Majnun dari sakit.
Sudah puluhan juta yang dihabiskan untuk mengobati Majnun. Tapi uang
puluhan juta itu tidak mampu menyembuhkan sakit yang diderita oleh
Majnun. Karena tidak pernah menderita sakit seperti itu sebelumnya,
Majnun pun sering menjerit-jerit dengan kencang, dank eras lantaran tak
kuasa menderita rasa sakit.
Saat tahu Majnun sakit keras, warga
desa ada yang simpati tetapi ada yang girang bukan kepalang. Mereka
yang simpati, akhirnya datang membesuk Majnun dan mendoakannya supaya
lekas sembuh dan nanti segera bertaubat atas segala kesombongan dan
keangkuhannya setelah diuji Allah dari stroke.
Tapi bagi mereka
yang girang mendengar Majnun ditimpa penyakit stroke, sama sekali tak
mau menjenguk dan mengatakan jika Majnun ditimpa sakit seperti itu,
adalah wajar sebab ia orang sombong dan selalu membanggakan dirinya yang
kaya raya. Padahal, kekayaannya yang disombongkan itu pun
berangsur-angsur digerogoti kebutuhan untuk membiayai perawatan di rumah
sakit.
Jadi Ular Besar
Setelah lama terkapar dan tidak bisa
berbuat apa-apa, akhirnya sakit yang diderita Majnun mendekati masa
kritis, dan puncaknya Allah menghendaki Majnun meninggal dunia. Majnun
menghembuskan nafas terakhir seusai menderita sakit yang tak terperikan.
Ia menjerit-jerit, hingga akhirnya kesunyian menjadi saksi bahwa Majnun
telah meninggal dunia. Kesunyian itu disusul sedih. Tangis istri dan
anak-anaknya pecah. Seketika, kamar rumah sakit ramai isak tangis,
ratapan dan jeritan.
Setelah keluarga mengurus biaya rumah
sakit, almarhum dibawa pulang ke rumah untuk dikebumikan hari itu. Meski
Majnun dikenal kurang baik oleh warga kampung, tetap ada sebagian warga
yang melayat. Jenazah almarhum kemudian dimandikan, dikafani, dishalati
kemudian diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak ada
kejadian aneh yang terjadi waktu pemakaman berlangsung.
Tetapi
kejadian aneh berlangsung satu minggu kemudian setelah jenazah Majnun
dikebumikan dengan tenang. Sebagaimana umumnya pemahaman sebagian orang
kampung Semangka, orang yang meninggal diadakan tahlilan, dan yasinan.
Apalagi karena yang meninggal itu adalah orang kaya, maka anak-anak dan
isteri Majnun membuat tenda besar di sekitar makam Majnun. Di tenda
besar itu, nanti warga desa diundang untuk mengadakan tahlilan dan
membaca yasin.
Tak kurang dari empat puluh orang hadir dalam
acara tahlilan itu. Tahlilan berlangsung mewah. Bahkan menurut Sanusi
(29 thn), seorang warga yang turut diundang tahlilan, menuturkan seusai
membaca yasin dan tahlil itu, setiap orang masih diberi uang oleh
anak-anak Majnun.
Tahlilan dan yasinan itu dilakukan setelah
Maghrib dan rencananya, acara itu akan digelar selama 40 hari. Tapi saat
tahlilan dan yasinan itu berlangsung 1 minggu, kejadian aneh terjadi.
Tiba-tiba kuburan Majnun meledak hebat. Orang yang sedang tahlilan
kaget, tercekat bunyi ledakan. Apalagi sesaat kemudian, dari dalam kubur
muncul seekor ular besar yang menjulur-julurkan lidahnya ke arah warga
yang sedang membaca surat Yasin.
Seketika orang yang hadir
dalam acara tahlilan itu berhamburan kabur, lari tunggang langgang.
Tetapi, tidak berapa lama kemudian, ular raksasa itu masuk kembali ke
kubur yang sudah terbuka.
Kejadian aneh itu ditafsiri warga
dengan berbagai cerita. Tetapi, yang jelas di malam itu anak-anka
almarhum Majnun segera meminta orang-orang yang ikut tahlilan untuk
merahasiakan kejadian aneh tersebut agar tutup mulut, dan setiap orang
diberi uang yang lumayan besar.
Tentu saja, cerita tragis yang
dialami keluarga Majnun itu bukanlah suatu kebetulan belaka. Lantaran
semasa hidupnya, Majnun dikenal sebagai orang yang sombong, angkuh dan
punya pesugihan. Padahal, Allah menganjurkan umat Islam supaya tidak
sombong sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan sombong, sesungguhnya Allah tak menyukai orang yang
sombong lagi membanggakan diri." (QS. Lukman: 18).
Selain itu,
pesugihan itu adalah syirik dan dosa syirik adalah dosa besar yang tidak
diampuni oleh Allah. Semoga kisah Majnun ini menyadarkan kita!