Selasa, 05 Juni 2012

SEMBILAN MAMFAAT KEHIDUPAN

Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasah wajah dengan air wudlu yang segar. Sesudah melaksanakan sholat dan berdoa. Cobalah menghadap cermin di dinding. Di sana kita mulai meneliti diri :
1.Lihatlah kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?
2. Lihatlah mata kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
3. Lihatlah telinga Kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
4. Lihatlah hidung Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?
5. Lihatlah mulut kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: berghibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
6. Lihatlah tangan Kita!
Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?
7. Lihatlah kaki Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
8. Lihatlah dada Kita!
Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?
9. Lihatlah diri kita!
Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?
Semoga Bermanfaat….
Kiriman : Buddy Rahmadinov (Anggota ICMI)
E-mail : buddyrahmadinov@yahoo.co.id
Author : PercikanIman.org
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

Utsman Bin Affan RA

Utsman Bin Affan RA adalah salah seorang yang sukses dalam perdagangan. Suatu ketika di masa paceklik, gandum miliknya tiba di Madinah. Puluhan pedagang grosir berminat membeli mengingat keuntungan yang dapat mereka raih bila menjualnya kepada konsumen yang ketika itu sangat membutuhkan.

Tetapi setiap datang kepada Usman seseorang yang menawarkan harga, beliau selalu berkata, "Sudah ada yang menawarkan keuntungan melebihi keuntungan yang Anda tawarkan."

Maka penawaran pun meningkat dan meningkat dan jawaban yang beliau berikan tetap sebagaimana semula. Para pedagang sepakat berkata bahwa, "Tidak mungkin ada yang mampu membeli melebihi tawaran tertinggi kami, konsumen tak mampu. Siapa pula yang menawarkan harga melebihi yang kami tawarkan?"

Utsman menjawab tegas, "Allah menawarkan padaku keuntungan 700 persen dan telah kuterima tawaran-Nya dan segera akan kuserahkan kepada siapa yang diberi-Nya, yakni kepada masyarakat miskin."

Itu dikemukakan Utsman RA sambil membaca firman-Nya, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tidap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dahsyatnya Shalat Subuh

majalah hidayah edisi 70 mei 2007

Kaum muslim cenderung ‘menganak tirikan’ shalat shubuh jika mau dibandingkan dengan shalat fardhu yang lain. Fakta ini bisa dilihat dari jumlah jama`ah shalat shubuh di masjid yang senantiasa hanya beberapa shaf. Sedang dalam shalat maghrib, jama`ah jauh lebih membludak. Padahal kalau kaum muslim tahu keistemawaan di balik shalat shubuh, niscaya akan berbondong-bondong mendatangi masjid. Nah, dalam edisi kali ini, Hidayah mewawancarai Muhammad Jihad Akbar, penulis buku Meraih Mukjizat Shalat Shubuh Bersama Rasulullah SAW (2006).

Apa sebenarnya keistimewaan shalat shubuh, sehingga Anda menganggap di balik shalat shubuh itu ada sebuah mukjizat yang tidak terkira?

Keistimewaan shalat shubuh itu sangat banyak dan mencakup “berbagai aspek”. Oleh karena itu, saya menganggap shalat shubuh itu ‘layak’ untuk dikatakan memiliki ‘mukjizat. Dalam kaitannya keistimewaan shalat shubuh ini (seperti yang saya jelaskan di buku Meraih Mukjizat Shalat Shubuh Bersama Rasulullah SAW), saya membagi dalam 3 poin penting.

Pertama, ditinjau dari aspek ajaran agama, dapat dijelaskan bahwa shalat shubuh itu memiliki keistimewaan yang sungguh luar biasa, antara lain; karena “shalat shubuh itu disaksikan langsung oleh malaikat malam dan siang (HR. al-Bukhari dan Muslim); “manifestasi kemenangan melawan setan” (HR. An-Nasa’i); juga “mendapatkan pahala laksana ibadah satu malam” (HR Muslim), “dosa-dosa akan diampuni (HR Al-Baihaqi); “selamat dari jilatan api neraka” (HR Muslim); “mendapatkan pahala yang sepadan haji dan umrah” (HR. At-Thabrani); dan lain sebagainya.

Kedua, keistimewaan shalat shubuh ditinjau dari aspeks kesehatan, kurang lebih dapat mencegah berbagai penyakit tanpa rasa sakit. Ketiga, dari aspek (segi) keimanan, shalat shubuh itu dapat mempertebal keimanan, karena memperbanyak amalan ibadah dengan ikhlas akan berbanding lurus dengan peningkatan keimanan

Apa Anda memiliki sebuah ‘pengalaman unik’ yang berkaitan dengan keistimewaan shalat shubuh?

Selama tiga tahun terakhir ini, saya sering menemani teman saya atau anggota keluarga saya yang kebetulan dirawat (inap) di rumah sakit, yang antara lain, akibat penyakit tifus, demam berdarah, jantung, dan stroke atau hipertensi. Ada satu hal yang menjadi perhatian saya, yaitu pasien tersebut biasanya “diukur” tekanan darahnya di waktu shubuh. Ada juga yang darahnya diambil pada waktu tersebut guna dianalisa di laboratorium.

Usut punya usut, ternyata rahasia di balik itu terjawab ketika saya mendalami rahasia di balik shalat shubuh ditinjau dari ilmu kesehatan. Lebih jelasnya, hal itu bukan berkaitan dengan jadwal pengukuran atau pengambilan darah semata, melainkan ada analisis kedokteran yang mendukung hal tersebut. Sebab pada waktu shubuh sampai pagi hari menjelang siang itu, tekanan darah di tubuh manusia cenderung meningkat dan pembuluh darah menyempit. Hal ini bisa menjadi pemicu kuat penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi) dan stroke. Celakanya, hal ini terjadi setiap hari, karena sudah menjadi siklus (ritme circardian). Dengan kata lain, setiap orang itu punya kecendrungan berpenyakit hipertensi dan stroke.

Astaghfirullah, bagaimana ini? Tetapi tenang, sebab Allah Swt Maha Rahman. Dia telah menyiapkan penangkal alami, yaitu seseorang yang banyak bergerak itu dapat mengurangi penyempitan pembuluh darah dan bisa menurunkan tekanan darah. Oleh karena itu, olahraga di pagi buta amatlah baik. Hal ini clinically improved (teruji secara klinis). Nah, bagi yang tidak sempat berolahraga perbanyaklah bergerak dengan bangun pada waktu shubuh; berwudhu lalu pergi atau berjalan ke masjid guna menjalankan shalat shubuh berjamaah. Sebelum shalat shubuh, juga telah dianjurkan shalat sunnah tahiyatul masjid dan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh).

Lantas bagaimana fenomena shalat shubuh di jaman nabi dahulu?

Masa Nabi Muhammad SAW dahulu merupakan sebaik-baiknya generasi Islam (peringkat pertama). Peringkat kedua adalah pada masa kepemimpinan para sahabat beliau, dan seterusnya. Maka dari itu, pelaksanaan shalat shubuh pada masa Nabi SAW amat berbeda dengan masa sekarang. Masjid Nabawi penuh sesak dengan para sahabat yang hendak melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Mereka tidak bangun pas adzan itu dikumandangkan, tetapi mereka menjemput shalat shubuh pada sepertiga malam terakhir dengan melaksanakan shalat Tahajud dan witir terlebih dahulu.

Selain itu, Rasul juga sering menge-chek para sahabat setelah melaksanakan shalat shubuh dengan menoleh ke arah makmum, untuk melihat di mana (keberadaan) para sahabat itu berada. Apabila beliau tidak mendapati seorang shahabat berada di masjid, beliau lalu mempertanyakannya. Jika dia itu tidak ikut berjamaah karena sakit, maka beliau akan menjenguk dan mendoakannya, dan jika bukan karena sakit, maka beliau mempertanyakan keimanannya. Demikianlah keindahan fenomena pelaksanaan shalat shubuh pada masa Nabi.

Adakah korelasi mentalitas dalam menjalani hidup dari orang yang rajin menjalani shalat subuh berjamaah?

Ada. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. bahwa beliau bersabda: “Seetan mengikat tekuk kepala kalian dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan setan membisikan,’Tidurlah, malam masih panjang’. Apabila dia bangun, lalu berdzikir kepada Allah SWT, maka terpelaslah ikatan itu. Jika dia berwudhu, maka lepaslah ikatan yang kedua. Kemudian apabila dia shalat, maka lepaslah ikatan yang ketiga. Sehingga pada pagi itu dia menjadi semangat. Tetapi kalau dia tidak bangun, maka pada pagi itu jiwanya akan terpuruk dan malas.” (HR.an-Nasa’i).

Sabda Nabi itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Jadi, pernyataan dalam hadis itu adalah penyataan Allah Swt yang menjamin akan hal tersebut. Permasalahannya adalah sebagian di antara kita beranggapan bahwa bangun tidur pada saat masih gelap gulita (waktu shubuh) akan membuat tubuh kita lemas dan kepala pusing. Untuk itu, maka rubahlah pola pikir tersebut, perbanyaklah bergerak pada waktu shubuh, niscaya keistimewaan shubuh itu akan dicapai.

Apa menurut Anda shalat shubuh itu bisa membuka jalan rizeki?

Seperti halnya jodoh dan ajal, rizki itu sudah ditentukan oleh Allah Swt. Tetapi, seseorang itu diharuskan untuk berusaha/‘menjemput rezki itu’. Semakin besar usaha yang dilakukan itu, maka akan semakin besar kemungkinan mendapatkan rizeki yang banyak. Tapi jangan lupa sertakanlah doa dan ibadah di dalamnya (ora et labora), sebab doa dan ibadah juga bisa menjadi faktor ‘penghasil rizki. Oleh karena itu, lantunkanlah segenap permohonan kepada Allah setelah shalat Shubuh, kemudian ikuti dengan aksi.

Apa pesan di balik shalat shubuh yang dikenarjakan di waktu gelap gulita itu?

Pesan pertama, shalat subuh itu menjadi awal langkah hidup seseorang di setiap hari. Itu menjadi bukti bahwa ibadah kepada Allah SWT itu harus didahulukan, karena manusia diciptakan oleh-Nya semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Pesan kedua, dari shalat shubuh itu, ruh ibadah menjelma pada setiap kegiatan yang akan dilakukan sehingga Allah senantiasa membimbing ke “jalan yang benar” dan juga memudahkan mencapai kesuksesan. Pesan ketiga, “shalat shubuh yang dikerjkan tepat waktu” pastilah dilakukan tatkala langit masih gelap. Nah ini menandakan bahwa apa yang dilakukan, baik yang terlihat orang lain atau yang tidak, Allah pastilah tahu. Di sini menjadi bukti iman seseorang, beramal/beribadah itu bukan karena dilihat orang, melainkan karena Allah.

dari kubur keluar ular besar

dari kubur keluar ular besar

tulisan ini dimuat di majalah hidayah, edisi 76 november 2007

Di kampung Mangga, ia dikenal orang kaya. Maklum, di tempatnya tinggal itu, lelaki paruh baya yang bernama Majnun (tentu bukan nama sebenarnya, 50 tahun) ini adalah petani sukses. Sawah dan ladang Majnun luas membentang. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai pedagang buah terkenal dan berhasil. Tak ayal, jika warga menyebut-nyebut lelaki yang memiliki lima anak itu tak kekurangan materi lantaran bergelimang dengan harta.

Tapi, kekayaan yang dimiliki Majnun itu tidak membuat dia menjadi orang yang ingat kebesaran Allah dengan rezeki yang telah diberikan padanya sehingga dia jadi dermawan atau ringan tangan terhadap orang miskin, paling tidak orang yang lagi dilanda kesusahan. Justru, dia selalu menggenggam jemari tangannya dengan erat dan bahkan congkak terhadap orang miskin.

Mungkin, tidak jadi soal jika Majnun tidak mau membantu orang yang butuh namun masih dengan cara baik dan rendah hati. Tapi, sudah tak mau mengulurkan tangan, Majnun masih berbohong, dan merasa tidak sebagai saudara.

Orang Kikir
Suatu hari, pernah ada sepupu Majnun dari jauh yang datang ke rumahnya untuk meminjam uang. Saudara Majnun itu lagi ditimpa musibah, lantaran anaknya sakit sehingga butuh biaya tak sedikit untuk berobat. Sepupu Majnun sebenarnya sadar, kalau tipis harapan jika harus meminjam uang kepada Majnun. Tetapi, jalan untuk mendapatkan uang sudah tidak ada lagi. Dia sudah bersusah payah minjam uang ke beberapa tetangga di kampung tempat tinggalnya, tetapi sayang tidak ada satu orang pun yang bisa membantu. Maka, tak punya pilihan lain, kecuali datang ke rumah Majnun. Dalam hati, ia membatin siapa tahu dengan keadaan anak sakit, Majnun tersentuh hati dan luluh sehingga tidak keberatan meminjamkan uang.

Sayang, harapan sepupu Majnun ternyata bertepuk sebelah tangan. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, dan tiba di rumah Majnun bukan sapaan akrab dan uluran tangan keluarga yang ia dapat melainkan luapan wajah cemberut di wajah Majnun yang serupa singa. Tentu saudara Majnun tidak mungkin pulang jika tanpa usaha. Dia sudah jauh terlanjur sampai di rumah Majnun, maka akhirnya memberanikan membuka mulut...

"Kedatangan saya ke sini sebenarnya selain silaturrahmi juga ada masalah penting yang ingin saya bicarakan!”, ucap sepupu Majnun.

“Masalah apa lagi?” tanya Majnun.

“Saya ingin minta tolong!” ucap sepupu Majnun gagap. “Saya butuh uang untuk mengobati anak saya yang sakit…"

Saat mendengar meminjam uang, seketika itu Majnun mendidih. Jantungnya berdegup kencang, mukanya merah serupa batu bata yang terbakar bara. Majnun berkacak pinggang, "Kau ini tiba ke sini hanya minta tolong! Saya tak punya uang. Hari ini dagangan buah tak laku, hasil panen pun belum tiba. Lagi pula, saya ini memang apa-mu?” ketus Majnun.

Sepupu Majnun itu, terdiam. Kedua kakinya lemas. Langit-langit seakan gelap. Mulutnya terkunci dengan ucapan Majnun yang ketus itu. Belum lagi, wajah cemberut Majnun yang dilihat seram menakutkan. Maka, tak ada pilihan lain untuk tinggal lebih lama. Dia segera pamit pulang, dengan tanpa membawa uang.

Dia sebenarnya tidak heran dengan kelakuan Majnun itu, karena penolakan Majnun terhadapnya kali ini bukanlah pertama yang dia alami. Sebelumnya pernah ia meminjam uang dan selalu dijawab dengan kata “tidak punya uang”.

Tetapi kali ini saudara Majnun terpaksa, tapi, apa daya orang yang selama ini dianggap sebagai saudara ternyata tak lebih dari orang asing yang tak saling kenal.

Watak Majnun itu, sebenarnya sudah jadi rahasia umum warga Semangka. Warga tahu, Majnun memang kaya. Tapi menurut warga, kekayaan yang dimiliki Majnun itu justru membuat Majnun sombong, congkak dan enggan bergaul dengan warga yang mayoritas berstatus rendah. Selain kikir, Majnun dikenal warga suka mendatangi sebuah pohon besar yang ada di ujung kampung. Tak jarang, Majnun kepergok oleh salah seorang warga yang mencari rumput.

Anto (36 tahun), warga yang mencari rumput itu pun sering melihat Majnun bersila di bawah pohon, melakukan ritual dengan menyajikan sesajen, membakar dupa dan mulutnya berkomat-kamit membaca mantera. Di akhir prosesi, Majnun kemudian bersujud di hadapan pohon besar tersebut dengan seksama.

Kebiasaan buruk itu, sudah sering dilakukan Majnun tatkala hari menjelang Maghrib --tepatnya Jum'at sore. Maklum jika Anto tahu. Dia seorang warga desa yang sehari-hari bekerja di sawah milik Majnun sebagai buruh harian. Tak salah pula Anto sering memergoki Majnun melakukan ritual aneh itu. Anto mengatakan aneh, sebab suatu hari pernah melihat Majnun bermesraan dengan seekor ular besar di bawah pohon.

Memang, awalnya ritual aneh itu hanya diketahui Anto. Tetapi, lama-lama warga tahu juga. Tapi warga hanya diam tak pernah mengusik kebiasaan Majnun yang dianggap menyimpang. Orang-orang kampung Semangka hanya berbisik-bisik tatkala di warung kopi lantas menyebut-nyebut Majnun itu telah mengambil pesugihan.

Sombong
Dengan memiliki kekayaan yang berlimpah dan tidak ada orang di kampung Semangka yang mampu menandinginya, Majnun pun jadi sombong termasuk kalau ada orang yang datang ke rumahnya. Padahal kedatangan orang ke rumahnya itu belum tentu mau meminjam uang. Bisa jadi, orang yang datang ke rumah Majnun itu ingin memberikan informasi, atau apa lagi…

Tapi karena Majnun selalu berprasangka negatif kepada setiap orang yang datang ke rumahnya, akhirnya orang kampung tak berani datang ke rumah Majnun jika memang tidak perlu. Rumah Majnun jadi angker, angkuh dan menyeramkan. Tidak jarang, pengemis atau anak yatim yang datang ke rumah Majnun pun untuk minta sedekah, akhirnya harus menantap rumah megah Majnun itu dengan tatapan yang nyaris tidak percaya jika pemiliknya ternyata tak bersahabat.

Selain dikenal angkuh dan sombong, Majnun juga nyaris tak pernah hadir jika ada warga atau tetangga yang lagi punya hajat. Maklum jika satu dua kali tak hadir, tetapi seringkali undangan warga itu tidak pernah dipenuhi Majnun dengan seribu alasan, seperti sibuk kerja atau sedang ke pergi ke luar kota.

Menurut pengakuan Anto, Majnun memang orang yang tidak suka bergaul dengan warga kampung. Sikap itu pula yang membuat warga membenci Majnun dengan sepenuh hati. Karena tidak semestinya Majnun bersikap sombong, apalagi tak mau bergaul dengan tetangga. Lebih dari itu, Majnun suka menghina orang.

Pernah suatu ketika, ia menghina Anto karena Anto sedang sakit dan minta istirahat beberapa hari untuk libur dari kerja di sawah Majnun. Tapi, Majnun tak memberi izin kepada Anto apalagi memberi bantuan uang untuk berobat. Justru, Anto dihina-hina. "Kau itu sudah miskin, sakit-sakitan lagi! Kapan lagi kamu akan menyelesaikan kerjaan di sawah!" bentak Majnun dengan muka bersemu merah menyala.

Jelas, hinaan itu langsung membuat Anto kecewa dengan majikannya yang selama ini ia bantu. Dalam hati kecil, Anto ingin memutuskan tidak melanjutkan bekerja di sawah Majnun. Tapi ia berfikir ulang, dari mana dia akan mendapatkan uang kalau tidak bekerja sebagai buruh harian di sawah Majnun? Apalagi istrinya sedang hamil dan nanti butuh biaya banyak untuk bersalin. Belum lagi, kebutuhan lain yang harus ditanggung Anto. Saat berpikir jernih, ia pun urung keluar kerja.

Sejak peristiwa itu, Anto menebalkan telinga, dan bungkam seribu bahasa meski Majnun menyumpahi dengan sumpah serapah yang tidak enak didengar. Tak salah, jika orang-orang sebelum Anto pun nyaris tidak pernah bertahan lama selama kerja di sawah Majnun.

Datang Sakit...
Jelas, roda kehidupan datang silih berganti. Ada orang yang kaya, ada pula yang miskin. Ada sehat, ada pula sakit. Ada siang, juga malam. Kadang di atas, suatu kali pun bisa jadi berganti ada di bawah. Seperti halnya Majnun, dia tak selamanya menjadi orang kaya yang bisa merendahkan setiap orang yang ada di sekitarnya. Ia juga tak selamanya akan sehat.

Hingga suatu hati, Majnun mendapat ujian dari Allah. Ia sakit. Ia mengalami stroke, tepatnya di kepala bagian kanan. Sakit yang dideritanya itu tak bisa lagi membuatnya pergi untuk berjualan buah. Tak pelak, ia pun hanya terbaring lemah di atas ranjang, menatap langit rumah yang kelam. Ia tidak mampu berkata-kata kasar pada orang-orang disekitarnya. Ia tak kuasa lagi berbicara dengan keras. Tak kuasa bergerak leluasa, bahkan sekadar untuk memalingkan wajahnya ke kiri atau kanan. Ia sudah tak mampu lagi berbuat banyak.

Satu bulan berlalu, sakit yang diderita Majnun ternyata belum pulih. Maka keluarga dan anak-anak Majnun ditikam bingung, pasalnya sudah sebulan itu pula Majnun menginap di rumah sakit dan biaya rumah sakit sudah membengkak tinggi, tetapi Majnun masih saja tak ada perkembangan. Tetapi apa daya, Allah memang belum berkehendak untuk menyembuhkan Majnun dari sakit. Sudah puluhan juta yang dihabiskan untuk mengobati Majnun. Tapi uang puluhan juta itu tidak mampu menyembuhkan sakit yang diderita oleh Majnun. Karena tidak pernah menderita sakit seperti itu sebelumnya, Majnun pun sering menjerit-jerit dengan kencang, dank eras lantaran tak kuasa menderita rasa sakit.

Saat tahu Majnun sakit keras, warga desa ada yang simpati tetapi ada yang girang bukan kepalang. Mereka yang simpati, akhirnya datang membesuk Majnun dan mendoakannya supaya lekas sembuh dan nanti segera bertaubat atas segala kesombongan dan keangkuhannya setelah diuji Allah dari stroke.

Tapi bagi mereka yang girang mendengar Majnun ditimpa penyakit stroke, sama sekali tak mau menjenguk dan mengatakan jika Majnun ditimpa sakit seperti itu, adalah wajar sebab ia orang sombong dan selalu membanggakan dirinya yang kaya raya. Padahal, kekayaannya yang disombongkan itu pun berangsur-angsur digerogoti kebutuhan untuk membiayai perawatan di rumah sakit.

Jadi Ular Besar
Setelah lama terkapar dan tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya sakit yang diderita Majnun mendekati masa kritis, dan puncaknya Allah menghendaki Majnun meninggal dunia. Majnun menghembuskan nafas terakhir seusai menderita sakit yang tak terperikan. Ia menjerit-jerit, hingga akhirnya kesunyian menjadi saksi bahwa Majnun telah meninggal dunia. Kesunyian itu disusul sedih. Tangis istri dan anak-anaknya pecah. Seketika, kamar rumah sakit ramai isak tangis, ratapan dan jeritan.

Setelah keluarga mengurus biaya rumah sakit, almarhum dibawa pulang ke rumah untuk dikebumikan hari itu. Meski Majnun dikenal kurang baik oleh warga kampung, tetap ada sebagian warga yang melayat. Jenazah almarhum kemudian dimandikan, dikafani, dishalati kemudian diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak ada kejadian aneh yang terjadi waktu pemakaman berlangsung.

Tetapi kejadian aneh berlangsung satu minggu kemudian setelah jenazah Majnun dikebumikan dengan tenang. Sebagaimana umumnya pemahaman sebagian orang kampung Semangka, orang yang meninggal diadakan tahlilan, dan yasinan. Apalagi karena yang meninggal itu adalah orang kaya, maka anak-anak dan isteri Majnun membuat tenda besar di sekitar makam Majnun. Di tenda besar itu, nanti warga desa diundang untuk mengadakan tahlilan dan membaca yasin.

Tak kurang dari empat puluh orang hadir dalam acara tahlilan itu. Tahlilan berlangsung mewah. Bahkan menurut Sanusi (29 thn), seorang warga yang turut diundang tahlilan, menuturkan seusai membaca yasin dan tahlil itu, setiap orang masih diberi uang oleh anak-anak Majnun.

Tahlilan dan yasinan itu dilakukan setelah Maghrib dan rencananya, acara itu akan digelar selama 40 hari. Tapi saat tahlilan dan yasinan itu berlangsung 1 minggu, kejadian aneh terjadi. Tiba-tiba kuburan Majnun meledak hebat. Orang yang sedang tahlilan kaget, tercekat bunyi ledakan. Apalagi sesaat kemudian, dari dalam kubur muncul seekor ular besar yang menjulur-julurkan lidahnya ke arah warga yang sedang membaca surat Yasin.

Seketika orang yang hadir dalam acara tahlilan itu berhamburan kabur, lari tunggang langgang. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, ular raksasa itu masuk kembali ke kubur yang sudah terbuka.

Kejadian aneh itu ditafsiri warga dengan berbagai cerita. Tetapi, yang jelas di malam itu anak-anka almarhum Majnun segera meminta orang-orang yang ikut tahlilan untuk merahasiakan kejadian aneh tersebut agar tutup mulut, dan setiap orang diberi uang yang lumayan besar.

Tentu saja, cerita tragis yang dialami keluarga Majnun itu bukanlah suatu kebetulan belaka. Lantaran semasa hidupnya, Majnun dikenal sebagai orang yang sombong, angkuh dan punya pesugihan. Padahal, Allah menganjurkan umat Islam supaya tidak sombong sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, sesungguhnya Allah tak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Lukman: 18).

Selain itu, pesugihan itu adalah syirik dan dosa syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah. Semoga kisah Majnun ini menyadarkan kita!

majalah hidayah edisi 81 mei 2008

majalah hidayah edisi 81 mei 2008

Suatu hari, datang seorang laki-laki tua mengenakan pakaian usang, dan jalannya sempoyangan menemui rasulullah. “Wahai nabi, aku lapar, telanjang (berpakaian usang) dan miskin. Berilah aku pakaian, sandang dan bantuan!”

Saat itu, Rasul dilanda kesusahan. “Sungguh aku ini tak memiliki apa-apa yang dapat kuberikan padamu. Pergilah ke rumah perempuan yang mendahulukan Allah daripada dirinya, yakni Fatimah…”

Bilal kemudian mengantar orang tua itu ke rumah Fatimah. Di hadapan Fatimah, orang tua itu berkata “Wahai putri Muhammad…, aku lapar dan butuh pakaian. Tolonglah aku, semoga Allah memberkatimu!”

Ketika itu, Fatimah juga dilanda kesusahan, tetapi ketika melihat kondisi orang tua itu ia tidak tega. Ia memberi kulit biri-biri yang biasa dipakai alas tidur Hasan dan Husain, “Ambillah ini, semoga Allah menggantinya bagimu dengan yang lebih baik lewat menjualnya.”

“Wahai Fatimah, aku mengeluh lapar kepadamu dan engkau memberiku kulit biri-biri! Bagaimana bisa aku makan dengan ini?”

Fatimah seperti diiris sembilu. Lantas, ia mengulurkan kalungnya. Orang itu mengambil kalung tersebut, lalu kembali menemui nabi. “Wahai nabi, Fatimah memberiku kalung dan memintaku untuk menjualnya…”

Rasul tersenyum, “Sungguh, Allah akan memberimu jalan keluar, karena Fatimah memberimu kalung ini.”

Ammar bin Yasir yang ada dekat nabi, meminta izin nabi untuk membeli kalung itu. Rasulullah memberi izin dan Ammar menanyakan harganya.

“Sepiring roti dan daging, sehelai baju Yaman untuk menutupi auratku dan mendirikan shalat di hadapan Allah, uang 1 dinar agar aku bisa pulang!”

Ammar yang baru menjual harta rampasan --perang Khaibar-- ternyata menawar lebih, “Aku memberimu 20 dinar, 200 dirham, sehelai baju Yaman, kuda untuk membawamu pulang dan kebutuhanmu akan roti dan daging.”

Setelah Ammar mengajak orang itu untuk memenuhi janjinya, orang itu menemui nabi lagi, “Aku kini jadi kaya. Semoga ayah dan ibuku jadi penebus bagi Anda.”

Nabi menimpali, “Balaslah Fatimah atas kemurahanhatinya!’

Orangtua itu memanjatkan doa. Setelah itu, ia pun pamit pulang.

Ammar membeli kalung itu, rupanya punya maksud lain. Ia membungkus kalung itu kemudian meminta budaknya (Shahm) mengantarkannya pada nabi, “Berikan kalung ini pada rasulullah. Katakan pada beliau, aku menyerahkanmu kepadanya.”

Shahm menemui nabi dan menyampaikan amanat dari Ammar tapi rasul justru minta Shahm untuk menemui Fatimah, “Bawalah kalung ini pada Fatimah dan aku serahkan kamu pada Fatimah!”

Shahm menyampaikan pesan nabi. Fatimah menerima kalung itu, seraya mengatakan bahwa Shahm telah merdeka. Seketika itu, Shahm tertawa. Karena tak tahu di balik tawa Shahm itu, maka Fatimah pun bertanya kepadanya.

“Aku tertawa karena memikirkan kebajikan kalung ini. Ia memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, melapangkan orang miskin, memberbaskan budak, dan kembali kepada pemilik aslinya.”

Itulah kisah sebuah kalung di balik kemurahan hati Fatimah. Apakah kita semua dapat meneladani perilaku Fatimah di kala susah tetapi ringan tangan merelakan apa yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan

dari kubur keluar ular besar

dari kubur keluar ular besar

tulisan ini dimuat di majalah hidayah, edisi 76 november 2007

Di kampung Mangga, ia dikenal orang kaya. Maklum, di tempatnya tinggal itu, lelaki paruh baya yang bernama Majnun (tentu bukan nama sebenarnya, 50 tahun) ini adalah petani sukses. Sawah dan ladang Majnun luas membentang. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai pedagang buah terkenal dan berhasil. Tak ayal, jika warga menyebut-nyebut lelaki yang memiliki lima anak itu tak kekurangan materi lantaran bergelimang dengan harta.

Tapi, kekayaan yang dimiliki Majnun itu tidak membuat dia menjadi orang yang ingat kebesaran Allah dengan rezeki yang telah diberikan padanya sehingga dia jadi dermawan atau ringan tangan terhadap orang miskin, paling tidak orang yang lagi dilanda kesusahan. Justru, dia selalu menggenggam jemari tangannya dengan erat dan bahkan congkak terhadap orang miskin.

Mungkin, tidak jadi soal jika Majnun tidak mau membantu orang yang butuh namun masih dengan cara baik dan rendah hati. Tapi, sudah tak mau mengulurkan tangan, Majnun masih berbohong, dan merasa tidak sebagai saudara.

Orang Kikir
Suatu hari, pernah ada sepupu Majnun dari jauh yang datang ke rumahnya untuk meminjam uang. Saudara Majnun itu lagi ditimpa musibah, lantaran anaknya sakit sehingga butuh biaya tak sedikit untuk berobat. Sepupu Majnun sebenarnya sadar, kalau tipis harapan jika harus meminjam uang kepada Majnun. Tetapi, jalan untuk mendapatkan uang sudah tidak ada lagi. Dia sudah bersusah payah minjam uang ke beberapa tetangga di kampung tempat tinggalnya, tetapi sayang tidak ada satu orang pun yang bisa membantu. Maka, tak punya pilihan lain, kecuali datang ke rumah Majnun. Dalam hati, ia membatin siapa tahu dengan keadaan anak sakit, Majnun tersentuh hati dan luluh sehingga tidak keberatan meminjamkan uang.

Sayang, harapan sepupu Majnun ternyata bertepuk sebelah tangan. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, dan tiba di rumah Majnun bukan sapaan akrab dan uluran tangan keluarga yang ia dapat melainkan luapan wajah cemberut di wajah Majnun yang serupa singa. Tentu saudara Majnun tidak mungkin pulang jika tanpa usaha. Dia sudah jauh terlanjur sampai di rumah Majnun, maka akhirnya memberanikan membuka mulut...

"Kedatangan saya ke sini sebenarnya selain silaturrahmi juga ada masalah penting yang ingin saya bicarakan!”, ucap sepupu Majnun.

“Masalah apa lagi?” tanya Majnun.

“Saya ingin minta tolong!” ucap sepupu Majnun gagap. “Saya butuh uang untuk mengobati anak saya yang sakit…"

Saat mendengar meminjam uang, seketika itu Majnun mendidih. Jantungnya berdegup kencang, mukanya merah serupa batu bata yang terbakar bara. Majnun berkacak pinggang, "Kau ini tiba ke sini hanya minta tolong! Saya tak punya uang. Hari ini dagangan buah tak laku, hasil panen pun belum tiba. Lagi pula, saya ini memang apa-mu?” ketus Majnun.

Sepupu Majnun itu, terdiam. Kedua kakinya lemas. Langit-langit seakan gelap. Mulutnya terkunci dengan ucapan Majnun yang ketus itu. Belum lagi, wajah cemberut Majnun yang dilihat seram menakutkan. Maka, tak ada pilihan lain untuk tinggal lebih lama. Dia segera pamit pulang, dengan tanpa membawa uang.

Dia sebenarnya tidak heran dengan kelakuan Majnun itu, karena penolakan Majnun terhadapnya kali ini bukanlah pertama yang dia alami. Sebelumnya pernah ia meminjam uang dan selalu dijawab dengan kata “tidak punya uang”.

Tetapi kali ini saudara Majnun terpaksa, tapi, apa daya orang yang selama ini dianggap sebagai saudara ternyata tak lebih dari orang asing yang tak saling kenal.

Watak Majnun itu, sebenarnya sudah jadi rahasia umum warga Semangka. Warga tahu, Majnun memang kaya. Tapi menurut warga, kekayaan yang dimiliki Majnun itu justru membuat Majnun sombong, congkak dan enggan bergaul dengan warga yang mayoritas berstatus rendah. Selain kikir, Majnun dikenal warga suka mendatangi sebuah pohon besar yang ada di ujung kampung. Tak jarang, Majnun kepergok oleh salah seorang warga yang mencari rumput.

Anto (36 tahun), warga yang mencari rumput itu pun sering melihat Majnun bersila di bawah pohon, melakukan ritual dengan menyajikan sesajen, membakar dupa dan mulutnya berkomat-kamit membaca mantera. Di akhir prosesi, Majnun kemudian bersujud di hadapan pohon besar tersebut dengan seksama.

Kebiasaan buruk itu, sudah sering dilakukan Majnun tatkala hari menjelang Maghrib --tepatnya Jum'at sore. Maklum jika Anto tahu. Dia seorang warga desa yang sehari-hari bekerja di sawah milik Majnun sebagai buruh harian. Tak salah pula Anto sering memergoki Majnun melakukan ritual aneh itu. Anto mengatakan aneh, sebab suatu hari pernah melihat Majnun bermesraan dengan seekor ular besar di bawah pohon.

Memang, awalnya ritual aneh itu hanya diketahui Anto. Tetapi, lama-lama warga tahu juga. Tapi warga hanya diam tak pernah mengusik kebiasaan Majnun yang dianggap menyimpang. Orang-orang kampung Semangka hanya berbisik-bisik tatkala di warung kopi lantas menyebut-nyebut Majnun itu telah mengambil pesugihan.

Sombong
Dengan memiliki kekayaan yang berlimpah dan tidak ada orang di kampung Semangka yang mampu menandinginya, Majnun pun jadi sombong termasuk kalau ada orang yang datang ke rumahnya. Padahal kedatangan orang ke rumahnya itu belum tentu mau meminjam uang. Bisa jadi, orang yang datang ke rumah Majnun itu ingin memberikan informasi, atau apa lagi…

Tapi karena Majnun selalu berprasangka negatif kepada setiap orang yang datang ke rumahnya, akhirnya orang kampung tak berani datang ke rumah Majnun jika memang tidak perlu. Rumah Majnun jadi angker, angkuh dan menyeramkan. Tidak jarang, pengemis atau anak yatim yang datang ke rumah Majnun pun untuk minta sedekah, akhirnya harus menantap rumah megah Majnun itu dengan tatapan yang nyaris tidak percaya jika pemiliknya ternyata tak bersahabat.

Selain dikenal angkuh dan sombong, Majnun juga nyaris tak pernah hadir jika ada warga atau tetangga yang lagi punya hajat. Maklum jika satu dua kali tak hadir, tetapi seringkali undangan warga itu tidak pernah dipenuhi Majnun dengan seribu alasan, seperti sibuk kerja atau sedang ke pergi ke luar kota.

Menurut pengakuan Anto, Majnun memang orang yang tidak suka bergaul dengan warga kampung. Sikap itu pula yang membuat warga membenci Majnun dengan sepenuh hati. Karena tidak semestinya Majnun bersikap sombong, apalagi tak mau bergaul dengan tetangga. Lebih dari itu, Majnun suka menghina orang.

Pernah suatu ketika, ia menghina Anto karena Anto sedang sakit dan minta istirahat beberapa hari untuk libur dari kerja di sawah Majnun. Tapi, Majnun tak memberi izin kepada Anto apalagi memberi bantuan uang untuk berobat. Justru, Anto dihina-hina. "Kau itu sudah miskin, sakit-sakitan lagi! Kapan lagi kamu akan menyelesaikan kerjaan di sawah!" bentak Majnun dengan muka bersemu merah menyala.

Jelas, hinaan itu langsung membuat Anto kecewa dengan majikannya yang selama ini ia bantu. Dalam hati kecil, Anto ingin memutuskan tidak melanjutkan bekerja di sawah Majnun. Tapi ia berfikir ulang, dari mana dia akan mendapatkan uang kalau tidak bekerja sebagai buruh harian di sawah Majnun? Apalagi istrinya sedang hamil dan nanti butuh biaya banyak untuk bersalin. Belum lagi, kebutuhan lain yang harus ditanggung Anto. Saat berpikir jernih, ia pun urung keluar kerja.

Sejak peristiwa itu, Anto menebalkan telinga, dan bungkam seribu bahasa meski Majnun menyumpahi dengan sumpah serapah yang tidak enak didengar. Tak salah, jika orang-orang sebelum Anto pun nyaris tidak pernah bertahan lama selama kerja di sawah Majnun.

Datang Sakit...
Jelas, roda kehidupan datang silih berganti. Ada orang yang kaya, ada pula yang miskin. Ada sehat, ada pula sakit. Ada siang, juga malam. Kadang di atas, suatu kali pun bisa jadi berganti ada di bawah. Seperti halnya Majnun, dia tak selamanya menjadi orang kaya yang bisa merendahkan setiap orang yang ada di sekitarnya. Ia juga tak selamanya akan sehat.

Hingga suatu hati, Majnun mendapat ujian dari Allah. Ia sakit. Ia mengalami stroke, tepatnya di kepala bagian kanan. Sakit yang dideritanya itu tak bisa lagi membuatnya pergi untuk berjualan buah. Tak pelak, ia pun hanya terbaring lemah di atas ranjang, menatap langit rumah yang kelam. Ia tidak mampu berkata-kata kasar pada orang-orang disekitarnya. Ia tak kuasa lagi berbicara dengan keras. Tak kuasa bergerak leluasa, bahkan sekadar untuk memalingkan wajahnya ke kiri atau kanan. Ia sudah tak mampu lagi berbuat banyak.

Satu bulan berlalu, sakit yang diderita Majnun ternyata belum pulih. Maka keluarga dan anak-anak Majnun ditikam bingung, pasalnya sudah sebulan itu pula Majnun menginap di rumah sakit dan biaya rumah sakit sudah membengkak tinggi, tetapi Majnun masih saja tak ada perkembangan. Tetapi apa daya, Allah memang belum berkehendak untuk menyembuhkan Majnun dari sakit. Sudah puluhan juta yang dihabiskan untuk mengobati Majnun. Tapi uang puluhan juta itu tidak mampu menyembuhkan sakit yang diderita oleh Majnun. Karena tidak pernah menderita sakit seperti itu sebelumnya, Majnun pun sering menjerit-jerit dengan kencang, dank eras lantaran tak kuasa menderita rasa sakit.

Saat tahu Majnun sakit keras, warga desa ada yang simpati tetapi ada yang girang bukan kepalang. Mereka yang simpati, akhirnya datang membesuk Majnun dan mendoakannya supaya lekas sembuh dan nanti segera bertaubat atas segala kesombongan dan keangkuhannya setelah diuji Allah dari stroke.

Tapi bagi mereka yang girang mendengar Majnun ditimpa penyakit stroke, sama sekali tak mau menjenguk dan mengatakan jika Majnun ditimpa sakit seperti itu, adalah wajar sebab ia orang sombong dan selalu membanggakan dirinya yang kaya raya. Padahal, kekayaannya yang disombongkan itu pun berangsur-angsur digerogoti kebutuhan untuk membiayai perawatan di rumah sakit.

Jadi Ular Besar
Setelah lama terkapar dan tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya sakit yang diderita Majnun mendekati masa kritis, dan puncaknya Allah menghendaki Majnun meninggal dunia. Majnun menghembuskan nafas terakhir seusai menderita sakit yang tak terperikan. Ia menjerit-jerit, hingga akhirnya kesunyian menjadi saksi bahwa Majnun telah meninggal dunia. Kesunyian itu disusul sedih. Tangis istri dan anak-anaknya pecah. Seketika, kamar rumah sakit ramai isak tangis, ratapan dan jeritan.

Setelah keluarga mengurus biaya rumah sakit, almarhum dibawa pulang ke rumah untuk dikebumikan hari itu. Meski Majnun dikenal kurang baik oleh warga kampung, tetap ada sebagian warga yang melayat. Jenazah almarhum kemudian dimandikan, dikafani, dishalati kemudian diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak ada kejadian aneh yang terjadi waktu pemakaman berlangsung.

Tetapi kejadian aneh berlangsung satu minggu kemudian setelah jenazah Majnun dikebumikan dengan tenang. Sebagaimana umumnya pemahaman sebagian orang kampung Semangka, orang yang meninggal diadakan tahlilan, dan yasinan. Apalagi karena yang meninggal itu adalah orang kaya, maka anak-anak dan isteri Majnun membuat tenda besar di sekitar makam Majnun. Di tenda besar itu, nanti warga desa diundang untuk mengadakan tahlilan dan membaca yasin.

Tak kurang dari empat puluh orang hadir dalam acara tahlilan itu. Tahlilan berlangsung mewah. Bahkan menurut Sanusi (29 thn), seorang warga yang turut diundang tahlilan, menuturkan seusai membaca yasin dan tahlil itu, setiap orang masih diberi uang oleh anak-anak Majnun.

Tahlilan dan yasinan itu dilakukan setelah Maghrib dan rencananya, acara itu akan digelar selama 40 hari. Tapi saat tahlilan dan yasinan itu berlangsung 1 minggu, kejadian aneh terjadi. Tiba-tiba kuburan Majnun meledak hebat. Orang yang sedang tahlilan kaget, tercekat bunyi ledakan. Apalagi sesaat kemudian, dari dalam kubur muncul seekor ular besar yang menjulur-julurkan lidahnya ke arah warga yang sedang membaca surat Yasin.

Seketika orang yang hadir dalam acara tahlilan itu berhamburan kabur, lari tunggang langgang. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, ular raksasa itu masuk kembali ke kubur yang sudah terbuka.

Kejadian aneh itu ditafsiri warga dengan berbagai cerita. Tetapi, yang jelas di malam itu anak-anka almarhum Majnun segera meminta orang-orang yang ikut tahlilan untuk merahasiakan kejadian aneh tersebut agar tutup mulut, dan setiap orang diberi uang yang lumayan besar.

Tentu saja, cerita tragis yang dialami keluarga Majnun itu bukanlah suatu kebetulan belaka. Lantaran semasa hidupnya, Majnun dikenal sebagai orang yang sombong, angkuh dan punya pesugihan. Padahal, Allah menganjurkan umat Islam supaya tidak sombong sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, sesungguhnya Allah tak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Lukman: 18).

Selain itu, pesugihan itu adalah syirik dan dosa syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah. Semoga kisah Majnun ini menyadarkan kita!

Bagian Tubuh

Tahukah sahabat, “Bagian tubuh yang mana yang paling penting…?”
Jawabannya adalah bahu….
Mau tahu kenapa bahu adalah bagian tubuh yang paling penting, silahkan simak kisah berikut ini dan semoga menjadi bahan pelajaran untuk kita semua.. Amiin…
Dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kecintaan, kasih sayang, dan bahu-membahu kaum mukminin layaknya satu tubuh, bila ada anggota tubuh itu yang menderita, niscaya anggota tubuh lainnya akan sama-sama merasakan susah tidur dan demam.” (Hadits Riwayat Muslim)