Selasa, 13 November 2012

Sebuah Renungan: Dosa yang Mendatangkan Bencana



Sebagian orang mengira bahwa akibat dosa hanya diterima nanti di akhirat. Padahal banyak sekali akibat-akibat dosa yang ditimpakan oleh Allah swt di dunia ini. Tentang hal ini: ada orang yang percaya dan ada juga yang tidak percaya; ada yang merasakan langsung, ada juga yang tidak merasakan; ada yang sebenarnya merasakan tapi belum tahu dan belum sadar bahwa penderitaan itu akibat dari dosa yang dilakukannya.
Jadi, sebenarnya bukan soal tidak merasakan. Tapi lebih pada persoalan mengetahui dan menyadari. Celakanya adalah sudah merasakannya tapi tidak menyadari bahwa hal itu akibat dari dosanya. Lebih celaka lagi orang yang tak mau tahu atau tidak mengakui bahwa itu akibat dari dosanya. Sehingga ia tak mau mentaubatinya.
Mengapa bagian yang terakhir ini lebih celaka? Karena secara berangsur-angsung ia akan menjadi kebal dengan akibat-akibat dosa yang dilakukannya. Inilah dinamakan istidraj, yakni peristiwa yang luar biasa dalam kedurhakaan kepada Allah swt sehingga Dia sangat murka padanya. Yakni ia sudah kehilangan akses dengan nuraninya, signal nuraninya sudah tak bisa diakses lagi karena sudah tertutup kabut hitam yang tebal sehingga suaranya tak terdengar lagi. Maaf, ini bisa kita analogikan dengan penjaga WC umum yang sudah kebal dengan bau tak sedap. Na’udzubillah, kita mohon perlindungan kepada Allah swt dari tingkatan yang terakhir ini.
Mengapa sebagian manusia kehilangan signal nuraninya? Ini berawal dari pembiasaan yang berulang-ulang dalam berbuat dosa. Akhirnya ia merasa biasa, dan menganggap bukan lagi perbuatan dosa.
Lalu kapankah ia dapat merasakannya? Ia akan merasakannya saat ia digoncang oleh gelombang badai kehidupan. Jika gelombang badai itu belum juga bisa merobek kabut hitam yang tebal dalam hatinya, maka peristiwa ini ditunda oleh Allah swt sampai sakratul menjemputnya.
Saat Sakratul maut tiba pasti ia akan merasakan dan menyaksikan. Karena saat itulah Allah swt merobek semua kabut hitam yang tebal darinya, sehingga ia mampu menyaksikan apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi pada dirinya. Inilah maksud dari firman Allah swt yang dinyatakan di dalam firman Al-Qur’an:
Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaaf/50: 19)
“Maka Kami singkapkan darimu tirai yang menutupi matamu, sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Qaaf/50: 22).
Benarkah ada dosa yang mendatangkan bencana? Dalam doa Kumail setelah bertawasul dengan asma Allah dan keagungan-Nya Imam Ali bin Abi Thalib (sa) menyebutkan dalam doa Kumail:
اَللّهُمَّ اغْفِـرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّـتيْ تُنْـزِلُ الْبَـلآءَ
Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tunzilul balâ’
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana
Lalu apa saja dosa-dosa yang mendatangkan bencana?
Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:
“Dosa-dosa yang mendatangkan bencana: Tidak membantu orang yang sedang menderita, tidak menolong orang yang sedang teraniaya, tidak perduli terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Al-Wasail 16: 281). Ali Zainal Abidin adalah putera Al-Husein cucu Rasululah saw.
Sekarang pertanyaannya:
1. Belumkah dosa-dosa itu terwujud di negeri kita?
2. Bagaimana jika dosa-dosa itu dilakukan secara kolektif dan para pemimpin bangsa tak perduli?
3. Belumkah bangsa ini merasakan akibat dosa-dosa tersebut?
4. Bagaimana jika pemimpin bangsa terlibat dalam dosa-dosa tersebut?
5. Mengapa sebagian bangsa ini belum mengakui, sehingga perlu taubat bersama?
6. Masihkan mereka menyombongkan tehnologi dan sainsnya? Dan masihkan kita menunggu gelombang badai yang lebih dahsyat lagi?
7. Semoga Allah swt melindungi kita yang tak berdaya, amin ya Rabbal ‘alamin.
Wassalam

Peristiwa Saat Dijemput Kematian


Peristiwa Saat Dijemput Kematian 

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Ketika manusia mengakhiri kehidupan dunianya dan mengawali kehidupan akhiratnya, digambarkan padanya: harta, anak dan amalnya. Kemudian ia menoleh ke hartanya dan berkata: Demi Allah, aku telah bersikap rakus terhadapmu dan kikir; sekarang apa yang bisa kamu lakukan untukku. Hartanya menjawab: ambillah dariku untuk kain kafanmu. Kemudian ia menoleh ke anaknya sambil berkata: Demi Allah, aku aku sangat mencintaimu dan memeliharamu; sekarang apa yang bisa kau lakukan untukku? Anaknya menjawab: Kami akan mengantarkanmu sampai ke kuburmu. Kemudian ia menoleh ke amalnya dan berkata: Demi Allah, aku telah bersikap zuhud terhadapmu dan terbebani olehmu, sekarang apa yang dapat kamu lakukan untukku? Amalnya menjawab: Aku akan menemanimu di kuburmu dan di mahsyarmu sampai kau persembahkan aku pada Tuhanmu.
Setelah kematian tiba, jika ia adalah kekasih Allah, maka datanglah kepadanya seorang tamu yang baunya paling harum dari semua manusia, paling baik pandangannya, paling indah pakaiannya, seraya ia berkata: “Berbahagialah kamu dengan ruh dari Allah, bunga-bunga dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Anda datang ke sini dengan kehadiran yang baik.” Ia bertanya: Siapa kamu? Tamunya menjawab: aku adalah amal baikmu, aku pergi dari dunia menuju ke surga.
Ia mengetahui siapa saja yang memandikannya, yang membawa ke kuburnya dan menguburnya. Ketika ia dimasukkan ke kuburnya, datanglah dua malaikat kepadanya. Mereka malaikat penanya di alam kubur, mereka menghiasi rambutnya dan menuliskan giginya ke bumi. Suaranya seperti kilat yang menyambar. Lalu mereka bertanya: Siapa Tuhanmu ? Siapa Nabimu? Dan Apa agamamu? Ia menjawab : Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan Islam adalah agamaku. Mereka berkata: Semoga Allah menguatkan apa yang kamu cintai dan kamu ridhai.
Imam Ali (sa) berkata : Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah swt : “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat….” (S. Ibrahim : 27)
Kemudian mereka (malaikat) meluaskan kuburnya sejauh pandangan matanya, dan membukakan untuknya pintu surga, kemudian mereka berkata: Tidurlah dengan damai seperti tidurnya pemuda yang mendapatkan kenikmatan. Imam Ali (sa) berkata : Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt: “Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.” (Al-Furqan: 24)
Jika sang mayit itu orang yang memusuhi Tuhannya, maka datanglah kepadanya seorang tamu, pakaiannya paling jelek dari semua manusia, baunya paling busuk, sambil berkata : Selamat datang untuk memasuki air yang mendidih dan api yang membara. Ia tahu siapa saja yang memandikan tubuhnya, yang mengantarkan ke kuburnya dan menguburnya.
Ketika ia dimasukkan ke kuburnya, maka datanglah dua malaikat penanya dan bertanya kepadanya: Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu ? dan apa agamamu? Ia menjawab : Aku tidak tahu. Dua malaikat berkata: kamu tidak tahu atau kamu tidak mendapat petunjuk? Kemudian mereka mencambuknya dengan batang besi atau dengan sesuatu yang menakutkan pada semua makhluk Allah, kecuali jin dan manusia.
Lalu Dua malaikat itu membukakan pintu neraka dan berkata kepadanya : Tidurlah dengan keadaan yang paling buruk. Lalu ia ditempatkan di tempat yang sangat sempit seperti gagang anak panah, sehingga otaknya keluar dari antara kuku dan dagingnya. Allah mengumpulkan ia dengan ular-ular, kalajengking-kalajengking dan serangga-serangga bumi. Binatang itu menggigitnya sampai Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia selalu berharap agar segera datangnya hari kiamat karena tak sanggu menahan penderitaan yang menimpa dirinya.” (Tafsir Al-Mizan, jld 1, hlm 359-360)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka datanglah kepadanya: Rasulullah, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (salamullahi ‘alayhim) bersama para malaikat muqarrabin. Ketika Allah menggerakkan lisannya untuk bersaksi kesesaan Allah, nubuwwah Rasulullah, dan wilayah Ahlul bait, maka Allah menunjukkan hal itu kepada Rasulullah, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (salamullahi ‘alayhim). Ketika tidak mengucapkan hal itu, Allah memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang keimanan dalam hatinya. Kemudian menunjukkan kepada Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein.
Selanjutnya ia dikumpulkan bersama mereka yang telah mendapatkan karunia yang paling utama, dan para malaikat menyertai mereka. Ketika ia dihadapkan kepada Allah, Dia membawa ruhnya ke surga, yang gambarannya seperti gambaran di dunia, di sana ia makan dan minum. Ketika datang kepada mereka seorang tamu baru, ia mengenalnya dengan gambaran seperti gambaran di dunia.” (Tafsir Al-Mizan, jld 1, hlm 361)


Peristiwa Saat Dijemput Kematian
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Ketika manusia mengakhiri kehidupan dunianya dan mengawali kehidupan akhiratnya, digambarkan padanya: harta, anak dan amalnya. Kemudian ia menoleh ke hartanya dan berkata: Demi Allah, aku telah bersikap rakus terhadapmu dan kikir; sekarang apa yang bisa kamu lakukan untukku. Hartanya menjawab: ambillah dariku untuk kain kafanmu. Kemudian ia menoleh ke anaknya sambil berkata: Demi Allah, aku aku sangat mencintaimu dan memeliharamu; sekarang apa yang bisa kau lakukan untukku? Anaknya menjawab: Kami akan mengantarkanmu sampai ke kuburmu. Kemudian ia menoleh ke amalnya dan berkata: Demi Allah, aku telah bersikap zuhud terhadapmu dan terbebani olehmu, sekarang apa yang dapat kamu lakukan untukku? Amalnya menjawab: Aku akan menemanimu di kuburmu dan di mahsyarmu sampai kau persembahkan aku pada Tuhanmu.
Setelah kematian tiba, jika ia adalah kekasih Allah, maka datanglah kepadanya seorang tamu yang baunya paling harum dari semua manusia, paling baik pandangannya, paling indah pakaiannya, seraya ia berkata: “Berbahagialah kamu dengan ruh dari Allah, bunga-bunga dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Anda datang ke sini dengan kehadiran yang baik.” Ia bertanya: Siapa kamu? Tamunya menjawab: aku adalah amal baikmu, aku pergi dari dunia menuju ke surga.
Ia mengetahui siapa saja yang memandikannya, yang membawa ke kuburnya dan menguburnya. Ketika ia dimasukkan ke kuburnya, datanglah dua malaikat kepadanya. Mereka malaikat penanya di alam kubur, mereka menghiasi rambutnya dan menuliskan giginya ke bumi. Suaranya seperti kilat yang menyambar. Lalu mereka bertanya: Siapa Tuhanmu ? Siapa Nabimu? Dan Apa agamamu? Ia menjawab : Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan Islam adalah agamaku. Mereka berkata: Semoga Allah menguatkan apa yang kamu cintai dan kamu ridhai.
Imam Ali (sa) berkata : Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah swt : “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat….” (S. Ibrahim : 27)
Kemudian mereka (malaikat) meluaskan kuburnya sejauh pandangan matanya, dan membukakan untuknya pintu surga, kemudian mereka berkata: Tidurlah dengan damai seperti tidurnya pemuda yang mendapatkan kenikmatan. Imam Ali (sa) berkata : Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt: “Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.” (Al-Furqan: 24)
Jika sang mayit itu orang yang memusuhi Tuhannya, maka datanglah kepadanya seorang tamu, pakaiannya paling jelek dari semua manusia, baunya paling busuk, sambil berkata : Selamat datang untuk memasuki air yang mendidih dan api yang membara. Ia tahu siapa saja yang memandikan tubuhnya, yang mengantarkan ke kuburnya dan menguburnya.
Ketika ia dimasukkan ke kuburnya, maka datanglah dua malaikat penanya dan bertanya kepadanya: Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu ? dan apa agamamu? Ia menjawab : Aku tidak tahu. Dua malaikat berkata: kamu tidak tahu atau kamu tidak mendapat petunjuk? Kemudian mereka mencambuknya dengan batang besi atau dengan sesuatu yang menakutkan pada semua makhluk Allah, kecuali jin dan manusia.
Lalu Dua malaikat itu membukakan pintu neraka dan berkata kepadanya : Tidurlah dengan keadaan yang paling buruk. Lalu ia ditempatkan di tempat yang sangat sempit seperti gagang anak panah, sehingga otaknya keluar dari antara kuku dan dagingnya. Allah mengumpulkan ia dengan ular-ular, kalajengking-kalajengking dan serangga-serangga bumi. Binatang itu menggigitnya sampai Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia selalu berharap agar segera datangnya hari kiamat karena tak sanggu menahan penderitaan yang menimpa dirinya.” (Tafsir Al-Mizan, jld 1, hlm 359-360)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka datanglah kepadanya: Rasulullah, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (salamullahi ‘alayhim) bersama para malaikat muqarrabin. Ketika Allah menggerakkan lisannya untuk bersaksi kesesaan Allah, nubuwwah Rasulullah, dan wilayah Ahlul bait, maka Allah menunjukkan hal itu kepada Rasulullah, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (salamullahi ‘alayhim). Ketika tidak mengucapkan hal itu, Allah memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang keimanan dalam hatinya. Kemudian menunjukkan kepada Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein.
Selanjutnya ia dikumpulkan bersama mereka yang telah mendapatkan karunia yang paling utama, dan para malaikat menyertai mereka. Ketika ia dihadapkan kepada Allah, Dia membawa ruhnya ke surga, yang gambarannya seperti gambaran di dunia, di sana ia makan dan minum. Ketika datang kepada mereka seorang tamu baru, ia mengenalnya dengan gambaran seperti gambaran di dunia.” (Tafsir Al-Mizan, jld 1, hlm 361)

Ummul Istighfar, Sayyidul Istighfar, Penghulu Istighfar



Baru mendapat tweet dari Ust. Yusuf Mansur, diajak baca ummul istighfar sore-sore, dan apa itu ummul istighfar disuruh cari di Internet. Saya coba gugling tidak ketemu apa yang disebut ummul istighfar itu. Tapi, berdasarkan sepotong awal ummul istighfar yang dicuplikkan Ust. Yusuf Mansur di Facebook, saya menemukan istilah lain untuk istighfar itu yaitu sayyidul istighfar atau penghulu istighfar. Berikut bacaannya:
Dalilnya berdasarkan hadits Bukhary:
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah kamu berkata: “Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).” Barangsiapa yang membaca doa ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831).
Dari: berbagai sumber.